Awas! Ada Risiko Emas Jeblok ke Bawah US$ 1.600/Troy Ons

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 March 2021 20:10
FILE PHOTO: Gold bullion is displayed at Hatton Garden Metals precious metal dealers in London, Britain July 21, 2015. REUTERS/Neil Hall/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia merosot dalam beberapa hari terakhir hingga menyentuh level terendah nyaris 9 bulan terakhir. Melansir data Refinitiv, emas pada perdagangan hari ini, Selasa (2/3/2021), turun nyaris 1% ke US$ 1.706.7/troy ons, sebelum rebound dan menguat 0,36% di US$ 1.730,11/troy ons pada pukul 17:47 WIB.

Sebelum hari ini, harga emas sudah merosot dalam 4 hari beruntun dengan total 5,6%. Merosotnya harga emas dunia di tahun ini terbilang cukup menarik, sebab bahan bakar utama untuk menanjak masih ada.

Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve/The Fed belum merubah kebijakannya, suku bunga 0,25% masih akan dipertahankan hingga tahun 2023. Sementara program pembelian aset (Quantitative Easing/QE) senilai US$ 120 miliar per bulan juga belum akan dikurangi.


Selain itu, pemerintah AS di bawah Presiden ke-46 Joseph 'Joe' Biden, juga berencana menggelontorkan stimulus fiskal senilai US$ 1,9 triliun, yang kemungkinan besar akan cair dalam waktu dekat.

House of Representative (Dewan Perwakilan Rakyat/DPR) AS pada Sabtu (27/2/2021) pagi waktu setempat sudah meloloskan rancangan undang-undang kebijakan fiskal senilai US$ 1,9 triliun, dan kini diserahkan ke Senat AS.

"Kini, rancangan undang-undang sudah diserahkan ke Senat AS, saya berharap mereka akan bertindak cepat. Kita tidak perlu membuang waktu," kata Presiden AS Joseph 'Joe' Biden, sebagaimana dilansir CNBC International, Sabtu (27/2/2021).

"Jika kita bertindak sekarang - tegas, cepat dan berani, kita akhirnya akan bisa mengatasi virus (Covid-19) ini. Kita pada akhirnya akan menggerakkan perekonomian lagi," tambah Biden.

Stimulus moneter dan fiskal yang sama membawa emas mencetak rekor tahun lalu, tetapi di awal tahun ini seakan tak berdampak bagi emas dunia.

Harga emas belakangan ini tertekan akibat kenaikan yield obligasi (Treasury) AS hingga mencapai level tertinggi sejak Februari 2020 atau sebelum virus corona dinyatakan sebagai pandemi, dan The Fed belum membabat habis suku bunganya.

Treasury sama dengan emas merupakan aset aman (safe haven). Bedanya Treasury memberikan imbal hasil (yield) sementara emas tanpa imbal hasil. Dengan kondisi tersebut, saat yield Treasury terus menanjak maka akan menjadi lebih menarik ketimbang emas. Alhasil emas dunia pun jeblok.

Namun, dalam 3 hari terakhir, yield Treasury mulai menurun. Kemarin, yield Treasury tenor 10 tahun turun 2,7 basis poin ke 1,429%. Pada perdagangan Jumat lalu, yield ini juga menurun 5,9 basis poin. Penurunan berlanjut hari ini sebesar 1,5 basis poin.

Sayangnya, penurunan yield Treasury tersebut belum mampu mengangkat harga emas. Kali ini giliran indeks dolar yang menekan emas. Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tersebut menguat 0,23% ke 91,244, dan sudah menanjak dalam 4 hari terakhir.

Selain itu, emas juga digerogoti oleh bitcoin. Bitcoin yang digadang-gadang sebagai emas digital harganya melesat gila-gilaan.

Sepanjang tahun ini harga bitcoin sudah meroket lebih dari 70% dan berkali-kali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, bahkan sudah mendekati US$ 60.000/BTC.
Bank investasi ternama, JP Morgan mengungkapkan keberadaan bitcoin kini menyaingi emas.

"Kompetisi antara bitcoin dan emas sudah dimulai dalam pandangan kami," kata ahli strategi JP Morgan dalam sebuah catatan, sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (5/1/2020).

Ahli strategi tersebut saat itu melihat belakangan ini terjadi outflow dari pasar emas sekitar US$ 7 miliar dan terjadi inflow lebih dari US$ 3 miliar di Grayscale Bitcoin Trust.

Secara teknikal Melihat grafik harian, emas sudah berhasil menembus neckline pola Double Top, di kisaran US$ 1.764/troy ons. Sementara puncak pola ini di kisaran US$ 1.955/troy ons.

xauGrafik: Emas (XAU/USD) Harian
Foto: Refinitiv

Pola ini merupakan pola bearish, artinya harga emas berisiko turun lebih jauh. Jarak antara puncak dengan neckline sebesar US$ 191. Maka, ketika emas menembus neckline pola Double Top, target penurunan sebesar US$ 191 dari level neckline di US$ 1.573/troy ons.

Emas baru bisa lepas dari tekanan jika kembali ke atas neckline dan bertahan di atasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading