Mentok Rp 923.000/gram, 3 Alasan Ini Siap Kerek Harga Emas

Investment - Ferri Sandria, CNBC Indonesia
02 March 2021 11:38
Petugas menunjukkan koin emas Dirham di Gerai Butik Emas Antam, Jakarta, Kamis (4/2/2021). Bank Indonesia (BI) mengajak masyarakat dan berbagai pihak untuk menjaga kedaulatan Rupiah sebagai mata uang NKRI.    (CNBC Indonesia/ Tri Susislo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas Antam atau emas batangan Logam Mulia yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) bergerak stagnan pada perdagangan Selasa ini (2/3/2021).

Setelah kemarin mengalami naik 0,65% dari level terendah (27/2) dalam 7 bulan, hari ini data situs logammulia.com menunjukkan harga emas batangan Antam satuan 1 gram diperjualbelikan pada harga Rp 923.000 per batang, masih berada pada level yang sama dengan harga kemarin.

Produk emas batangan varian berat yang berbeda juga tidak mengalami perubahan. Sementara itu harga emas Antam acuan 100 gram juga masih sama dengan kemarin yakni Rp 86.512.000 atau Rp 865.120/gram.


Pada Sabtu lalu, emas ini berada di level Rp 917.000/batang yang merupakan level terendah sejak 21 Juli 2020 lalu. Sepanjang Februari emas Antam satuan 1 gram merosot 3,9%.

Adapun harga emas dunia juga masih mengalami penurunan menjadi US$ 1.711,58/troy ons, jeblok 1,27% dari harga pekan lalu.

Meski tidak mengalami penurunan, harga emas dunia diperkirakan tidak akan membaik dalam waktu cepat. Menurut Kepala Riset Pepperstone, Chris Weston, masih terlalu cepat untuk memberikan proyeksi bullish (tren naik) terhadap emas.

Weston mengidentifikasi terdapat beberapa hal penting yang bisa membuat skenario harga emas berbalik menjadi tren positif, setidaknya terdapat tiga alasan bagi Weston untuk menghasilkan kesimpulan tersebut.

Pertama adalah inflation scarce, jika terjadi percepatan inflasi, investor akan berbondong-bondong memborong emas sebagai bentuk perlindungan mengingat emas biasanya menjadi aset hedging alias lindung nilai jika kondisi ekonomi suatu negara kian berisiko.

Kedua adalah terjadinya deflation shock, jika terjadi kejutan deflasi secara mendadak, emas akan diuntungkan dari penurunan yield (imbal hasil) obligasi secara real dan nominal.

Sebagai catatan yang dimaksud nominal yield adalah absolut yield atau yield yang didapatkan tanpa memperhitungkan faktor lain. Sementara real yield adalah yield dari obligasi setelah dikurangi inflasi.

Ketiga adalah peningkatan penggunaan neraca keuangan bank sentral Amerika, the Fed (Federal Reserve). Jika the Fed memberi sinyal bahwa mereka siap untuk membatasi ujung panjang kurva obligasi AS, emas juga akan naik.

"Idealnya, saya menginginkan satu dari tiga kriteria tersebut terpenuhi sebelum saya merubah taktik bullish [untuk harga emas]," kata Weston dikutip Kitco, Selasa (2/3/2021).

Weston menambahkan bahwa ia tidak melihat bahwa ketiga kriteria tersebut dapat terpenuhi dalam waktu dekat. Termasuk di dalamnya perdebatan mengenai pembatasan obligasi AS atau US Treasury secara jangka panjang oleh the Fed, yang merupakan perdebatan besar.

Akan tetapi Weston tidak menutup kemungkinan hal itu dapat terjadi, walaupun probabilitasnya rendah.

Investor harus memperhatikan yield US Treasury dengan lebih teliti, karena pasar tampaknya tidak setuju dengan Fed dalam hal waktu potensi kenaikan suku bunga di masa depan.

Pekan ini, semua mata akan tertuju pada pimpinan the Fed, Jerome Powell yang pada kamis ini akan memberikan pidato terkait ekonomi AS di Wall Street Journal Jobs Summit.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading