Awas! Cuan Emas Bisa Ludes, Harganya Terjun Bebas

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
01 March 2021 09:08
Dok Antam

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia terjun bebas minggu lalu ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami kenaikan yang tajam. Mengawali perdagangan pekan ini harga emas naik dan yield obligasi AS turun. Namun nasib emas diperkirakan masih akan tertekan. 

Pada perdagangan Senin pagi (1/3/2021), harga emas di pasar spot mengalami apresiasi 0,43% ke US$ 1.741,32/troy ons. Maklum imbal hasil obligasi AS sudah melandai. Ketika imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun naik 13 basis poin (bps) harga emas anjlok lebih dari US$ 60/troy ons.


Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dipicu oleh ekspektasi inflasi yang tinggi akibat kebijakan makro yang akomodatif didukung oleh fiskal ekspansif dan moneter ultra longgar. 

Adanya inflasi tinggi diantisipasi oleh investor. Sehingga wajar jika mereka meminta kompensasi berupa kenaikan yield. Banyak pihak yang khawatir bahwa The Fed akan mengubah stance kebijakan moneternya akibat inflasi yang tinggi dalam waktu dekat. 

Namun lagi-lagi The Fed kembali menegaskan bahwa inflasi masih lebih rendah dari sasaran target. Ekonnomi masih jauh dari keadaan pulih. Suku bunga akan tetap di tahan di level yang rendah setidaknya untuk dua tahun ke depan dan tapering tidak akan dilakukan.

Akhir pekan lalu DPR AS juga sepakat untuk meloloskan RUU stimulus fiskal usulan Joe Biden senilai US$ 1,9 triliun. DPR Partai Demokrat berhasil memenangkan suara 219-212 dalam voting. Kini RUU tersebut telah dikirim ke Senat. 

Komposisi Senat yang juga diduduki oleh Partai Biru memungkinkan jalannya bantuan fiskal Negeri Adikuasa ini menjadi mulus. Jika RUU ini goal, maka likuiditas di sistem keuangan semakin berlimpah. 

Hantu inflasi bisa semakin gentayangan. Emas merupakan salah satu aset yang digunakan sebagai aset untuk lindung nilai, terutama untuk hedging terhadap risiko devaluasi nilai tukar.

Pasokan uang beredar yang tinggi membuat dolar AS menjadi tidak berharga di hadapan berbagai barang, sehingga inflasi berpotensi terjadi. Namun emas bukannya menguat malah tertekan karena imbal hasil obligasi juga naik. 

Tidak seperti saham yang memberi dividen dan obligasi yang memberikan kupon, emas merupakan aset tak berimbal hasil. Sehingga ketika yield naik maka opportunity cost memegang emas juga naik. Hal inilah yang membuat emas menjadi semakin kurang menarik apalagi di tengah agresifnya para investor memburu aset berisiko.

Koreksi tajam harga emas minggu lalu selain diakibatkan oleh kenaikan yield juga karena faktor teknikal. Harga emas bergerak di bawah rata-rata 200 hariannya sehingga memicu terjadinya technical selling. 

Minggu ini, para analis Wall Street semakin bearish terhadap emas. Dari 13 analis yang disurvei oleh Kitco, 8 orang responden (61,5%) meramal harga emas bakal drop lagi pekan ini. Sebanyak 3 analis bullish dan dua lainnya netral.

Di sisi ritel, 669 responden mengikuti polling Main Street online. Sebanyak 351 responden atau 52,5% mengharapkan emas naik minggu ini. Sebanyak 223 lainnya atau 33,3%, memperkirakan emas akan jatuh. Sementara 95 pemilih lainnya, atau 14,2%, melihat pasar bergerak sideways.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading