Newsletter

Sah! Dividen Bebas Pajak, IHSG Meroket atau Meleset Nih?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
03 March 2021 06:00
Warga mempelajari platform investasi di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/11/2020). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri kembali bervariasi pada perdagangan Selasa kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat, rupiah melemah, dan dari pasar obligasi, Surat Berharga Negara (SBN) ada yang naik banyak yang turun.

Yield obligasi (Treasury) Amerika Serikat (AS) yang turun 3 hari beruntun memberikan dampak positif ke pasar finansial global, bursa saham di berbagai negara mampu menguat. Namun penguatan indeks dolar AS cukup memukul Mata Uang Garuda. Faktor-faktor tersebut masih akan mempengaruhi pergerakan pasar hari ini, Rabu (3/3/3021), begitu juga beberapa faktor lainnya seperti relaksasi PPh dividen yang akan dibahas pada halaman 3 dan 4.


IHGS kemarin berhasil menguat 0,33% ke 6.359,205. Data perdagangan mencatat investor asing melakukan aksi beli bersih senilai Rp 27 miliar, dengan nilai transaksi mencapai Rp 14,23 triliun.

Sejak mencapai level 1,6% pada pekan lalu, yield Treasury AS sudah turun 3 hari beruntun, Kemarin, yield Treasury tenor 10 tahun turun 3,92 basis poin ke 1,4068%. Total dalam 3 hari perdagangan, yield treasury sudah turun 10,8 basis poin.

Banyak analis melihat kenaikan yield Treasury masih akan tertahan di kisaran 1,5%, sebab jika terus menanjak, maka akan memicu kecemasan terjadi taper tantrum yang dapat memicu gejolak di pasar keuangan global.

Dengan penurunan yield tersebut, kecemasan akan tarjadinya taper tantrum kini menurun, apalagi bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) diprediksi akan melancarkan Operation Twist yang pernah dilakukan 10 tahun yang lalu saat terjadi krisis utang Eropa.

Operation Twist dilakukan dengan menjual obligasi AS tenor pendek dan membeli tenor panjang, sehingga yield obligasi tenor pendek akan naik dan tenor panjang menurun. Hal tersebut dapat membuat kurva yield melandai.

Alhasil, pasar saham global menghijau sejak awal pekan.

Sementara itu, nilai tukar rupiah membukukan pelemahan 3 hari beruntun melawan dolar AS, setelah melemah 0,35% ke Rp 14.300/US$, level tersebut merupakan yang terlemah sejak 5 November 2020 lalu.

Yield Treasury yang sudah menurun belum mampu membawa rupiah ke zona hijau, sebab indeks dolar AS yang kini menanjak. Pada perdagangan Selasa, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tersebut sempat menguat 0,39% di sesi Asia, sebelum berbalik turun dan melemah 0,29% di akhir perdagangan sesi AS.

Kemudian dari pasar obligasi, yield SBN bergerak bervariasi. Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Ketika yield turun artinya harga obligasi sedang naik, sebaliknya ketika yield turun, harganya mengalami kenaikan.

Penurunan yield Treasury dalam 3 hari terakhir masih belum mampu membuat harga SBN kompak menguat.


HALAMAN SELANJUTNYA >>> Wall Street Merah Diterpa Profit Taking

Wall Street Merah Diterpa Profit Taking
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading