Ngamuk! Harga Batu Bara Dekati US$ 85/Ton

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
02 March 2021 09:20
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara bergerak dengan volatilitas tinggi di tahun 2021. Hanya dalam waktu singkat harga batu bara anjlok signifikan dan dalam waktu singkat pula harganya kembali meroket. 

Pasca tertekan dalam dua pekan terakhir, harga kontrak futures (berjangka) batu bara ICE Newcastle mulai rebound. Dalam empat hari perdagangan terakhir harga batu bara telah naik 9,2%. 

Pada penutupan perdagangan kemarin, harga kontrak ICE Newcastle kembali menguat. Kali ini harga kontrak yang aktif ditransaksikan di bursa berjangka tersebut melesat 1% ke US$ 83,8/ton. 


Harga batu bara berangsur membaik seiring dengan prospek pemulihan ekonomi yang lebih cerah di tahun ini akibat gencarnya vaksinasi Covid-19 yang dilakukan di banyak negara. 

Prospek harga batu bara untuk tahun ini diramal akan lebih baik ketimbang tahun lalu. Apalagi negara konsumen sekaligus produsen terbesarnya yaitu China diperkirakan ekonominya akan tumbuh dengan pesat.

Permintaan batu bara global tahun ini masih akan ditopang oleh pasar Asia Pasifik dengan China dan India sebagai motor penggeraknya. Di Amerika Serikat (AS) dan Eropa pandemi Covid-19 semakin membulatkan tekad negara-negara Barat untuk beralih dari sumber energi fosil tersebut ke alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Konsumsi batu bara yang besar di China mendorong produsen batu bara asing untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Selain itu, tambang batu bara di luar negeri sebagian besar merupakan tambang terbuka, sehingga mudah untuk meningkatkan produksi.

Namun, produksi batu bara di China dibatasi oleh kebijakan perlindungan lingkungan dan faktor lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa tambang batu bara skala kecil dan menengah harus menghentikan produksi atau bahkan menghentikan produksinya karena fasilitas perlindungan lingkungan mereka gagal memenuhi standar.

Sementara itu, kenaikan biaya penambangan membuat harga batu bara di China lebih tinggi dari harga batu bara internasional. Misalnya, pada 2019, harga rata-rata batubara impor hanya US$ 78 per ton, lebih rendah sekitar 10% dari harga batu bara dalam negeri.

Berdasarkan analisis tersebut, biaya logistik untuk impor batu bara sangat rendah karena sebagian besar batu bara impor masuk ke China melalui jalur laut.

Sementara biaya logistik untuk batu bara dalam negeri jauh lebih tinggi karena harga minyak sulingan lebih mahal di Cina daripada di belahan dunia lain. Oleh karena itu, China mengimpor batu bara dalam jumlah besar setiap tahun.

Impor batu bara China naik dari 204,06 juta ton pada 2015 menjadi 299,67 juta ton pada 2019. Pada 2020, akibat merebaknya Covid-19 dan memburuknya hubungan China dan Australia membuat tren impor batu bara China menunjukkan menurun.

Global Newswire melaporkan, Dari Januari hingga November 2020, impor batu bara China berjumlah sekitar 264,83 juta ton atau turun 10,8% dari tahun sebelumnya.

Impor batu bara diklasifikasikan menjadi antrasit, batu bara kokas, batu bara lainnya, batu bara bituminus lainnya dan lignit. Tiga jenis batu bara pertama digunakan untuk pembangkit listrik tenaga panas dan secara kolektif disebut batu bara uap di Cina.

Impor batu bara China didominasi oleh batu bara uap yang memiliki harga rata-rata yang rendah. Menurut prediksi analis, jika pandemi Covid-19 mereda pada 2021, impor batu bara China akan meningkat pada 2021-2025.

Meskipun Cina telah mengurangi impor batu baranya dari Australia, Negeri Panda akan mencari batu bara dari negara lain sebagai alternatif. Salah satunya Indonesia. Namun jika Covid-19 berlanjut pada 2021, diperkirakan impor batu bara China akan terus menurun pada 2021 dan tidak akan melanjutkan pertumbuhan hingga 2022.


TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading