Lampaui Industri, Begini Kinerja Bank Mega di 2020

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
18 February 2021 12:35
Bedah Sumber Pertumbuhan Bisnis Bank Mega 2021 (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia- Pandemi Covid-19 membuat ekonomi terpukul termasuk sektor perbankan di dalamnya. Namun, masih ada bank mampu melewati situasi menantang tersebut dengan profitabilitas yang kuat, salah satunya PT Bank Mega Tbk (MEGA).

Sepanjang 2020, Bank Mega membukukan laba senilai Rp 3,01 triliun, atau melesat 50,2% jika dibandingkan dengan capaian setahun sebelumnya sebesar Rp 2 triliun. Bank Mega di bawah naungan CT Coprora ini juga mencatat kenaikan aset 11,3%, atau melampaui industri yang hanya naik 7,2% (per Desember).

Kenaikan aset ini sejalan dengan pengembalian dari aset (return on asset/ROA) tumbuh sebesar 3,64% atau di atas industri yang sebesar 1,59%. Artinya, perseroan bisa memutar setiap rupiah aset yang ada untuk menghasilkan laba positif, meski kondisi sedang tak menentu akibat pandemi.


Tingginya ROA Bank Mega terjadi bukan karena aset perseroan yang flat atau bahkan menurun ketika laba meningkat. Secara matematis, ROA memang bisa terdongkrak jika aset-sebagai pembaginya-mengecil sementara laba tetap/tumbuh. Artinya, kenaikan profitabilitas Bank Mega sejalan dengan kenaikan aset, yang menunjukkan kinerja mereka memang prima secara riil dan tak cuma hitungan di atas kertas.

Dalam perbankan, kenaikan aset terjadi terutama karena pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) alias dana simpanan masyarakat di perbankan. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat simpanan masyarakat di 109 bank umum per Desember 2020 naik 11% (secara tahunan).

Perseroan juga mencetak pertumbuhan DPK yang sangat tinggi, yakni sebesar 8,8% per Desember 2020, menjadi Rp 79,2 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa tren surutnya belanja masyarakat di tengah pandemi, dan beralihnya ke simpanan memang benar terjadi. Bank Mega menjadi salah satu bank yang dipercaya masyarakat menyimpan dana mereka, sembari menunggu situasi membaik.

Menurut LPS, dari total simpanan per Desember 2020 sebesar Rp 6.737 triliun, proporsi terbesar ialah deposito (40,85%), disusul tabungan (32,32%), giro (25,59%), deposit on call (1,14%) dan sertifikat deposito (0,10%).

Hal yang sama juga terjadi di Bank Mega di mana deposito masih mendominasi sebanyak 72% dari total DPK, diikuti tabungan (sebesar 17%) dan giro (11%). Namun, Bank Mega mencetak pertumbuhan tertinggi di giro yakni sebesar 54,6% diikuti tabungan (+10%) dan deposito (+3,9%) yang menunjukkan dana murah tumbuh lebih pesat dari dana mahal.

Dengan peningkatan DPK tersebut, rasio pembiayaan terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) bank yang beroperasi di bawah kendali CT Corp ini memiliki likuiditas yang berlimpah, yakni di level 60%.

Ini jauh lebih longgar jika dibandingkan dengan LDR industri yang berada di angka 82,2%. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), LDR idealnya tidak melampaui angka 90% untuk memastikan bahwa bank memiliki likuiditas yang cukup untuk mengantisipasi risiko.

"Saya ingin menyampaikan, bahwa di dalam membuat perbankan kita terus berusaha menjaga agar ample (berlimpah) likuiditasnya dan mendukung pertumbuhan," tutur Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana, dalam Outlook Perbankan 2021, Kamis (11/2/2021).

Berbeda dari DPK yang tumbuh double digit, kinerja kredit perbankan secara nasional tahun lalu masih tertekan, dengan kontraksi sebesar -2,41%. Secara bersamaan, perbankan harus berkutat dengan restrukturisasi kredit senilai Rp 971 triliun-setara 18% dari total kredit.

Baca riset tentang kinerja Bank Mega selengkapnya di SINI


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading