Bank Mega Tetap Solid Meski Diterpa Pandemi, Ini Buktinya!

Market - Tim, CNBC Indonesia
25 February 2022 12:25
Dirut utama Bank Mega, Kostaman Thayib (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Dirut utama Bank Mega, Kostaman Thayib (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 yang sudah terjadi hampir dua tahun terbukti tidak terlalu berpengaruh terhadap likuiditas PT Bank Mega Tbk (MEGA). Likuiditas bank milik pengusaha nasional Chairul Tanjung alias CT ini tetap solid sepanjang tahun lalu.

Solidnya likuiditas tersebut tercermin dari rasio loan to deposit ratio (LDR) Bank Mega yang berada di kisaran 60%. Rasio ini jauh di bawah rata-rata LDR bank nasional.

"Rata-rata LDR perbankan per November di kisaran 77,9%. Rendahnya LDR Bank Mega menunjukkan besarnya likuiditas yang dimiliki Bank Mega," ujar Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib dalam paparannya secara langsung di CNBC Indonesia TV, Jumat (25/2/2022).


Rasio Beban Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) juga secara konsisten turun. Medio 2014, BOPO Bank Mega mencapai 91,25%. Namun, rasio BOPO tahun lalu jauh menyusut menjadi hanya 56,06%.

"Rasio tersebut sangat rendah. Rasio BOPO Bank Mega jauh di bawah rata-rata perbankan 82,97%," terang Kostaman.

Di tengah pandemi, Bank Mega juga tetap mampu mengerek laba bersih 33% secara tahunan menjadi Rp 4,01 triliun tahun lalu. Berdasarkan data laporan kinerja Bank Mega 2021, nilai aset perusahaan sepanjang tahun lalu tumbuh 18% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 133 triliun.

Pertumbuhan ini di atas kenaikan aset industri perbankan nasional yaitu 10% YoY. Dan mendudukkan raihan laba Bank Mega di 5 besar perbankan, kendati secara aset bukan termasuk yang terbesar.

Meski bertumbuh, Bank Mega juga mengalami berbagai tantangan pada 2021 seperti banyak industri lainnya, seperti perekonomian global yang belum pulih dan juga ekonomi Indonesia yang belum stabil. Ditambah lagi, dengan vaksinasi yang belum merata dan serangan varian Delta pada 2021 lalu.

Untungnya Bank Mega bisa bertransformasi dengan cepatnya arus digitalisasi ekonomi keuangan dengan dominasi sejumlah BigTech. Termasuk juga, tuntutan atas ekonomi hijau (green economy) dan keuangan berkelanjutan (sustainable finance).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Laba Bank Mega Q3 Melesat 43% Tembus Rp 2,5 T, Kredit Rp 54 T


(dhf/dhf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading