Saham ADRO dkk Kompak 'Melepuh', Apa Pemicunya?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
17 February 2021 13:11
FILE PHOTO: The logo of PT Adaro Energy as seen at PT Adaro Energy headquarters in Jakarta, Indonesia, October 20, 2017. REUTERS/Beawiharta/File Photo

Di sisi lain, Adaro baru saja merilis kinerja produksi tahun lalu. ADRO mencatatkan total produksi batu bara sepanjang tahun 2020 sebesar 54,53 juta ton atau turun 6% dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Head of Corporate Communication Adaro Febriati Nadira, dalam penjelasannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan, volume produksi batu bara tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan target yang ditetapkan untuk tahun 2020 sebesar 52 - 54 juta ton.

Sementara itu, volume penjualan batu bara pada 2020 mencapai 54,14 juta ton, turun 9% secara tahunan.


"Nisbah kupas tahun 2020 tercatat 3,84 kali lebih rendah daripada panduan yang ditetapkan sebesar 4,30 kali akibat cuaca yang kurang baik hampir di sepanjang tahun," kata Febriati Nadira, dilansi CNBC Indonesia, Rabu (17/2/2021).

Di tahun ini, emiten bersandi ADRO ini juga mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 200 juta sampai dengan US$ 300 juta. Target belanja modal tersebut meliputi pemeliharaan rutin can capex pertumbuhan. Sementara itu, EBITDA operasional ditargetkan pada tahun ini berada pada kisaran US$ 750 juta sampai dengan US$ 900 juta.

"Walaupun pemulihan ekonomi diperkirakan akan berdampak positif terhadap batu bara, perusahaan harus tetap berhati-hati untuk mengantisipasi ketidakpastian," ujarnya.

Belum banyak emiten batu bara merilis kinerja produksi. BUMN tambang batu bara PTBA juga sudah merilis kinerja meskipun belum resmi secara angka. Bahkan tahun ini, perusahaan menargetkan produksi batu bara bisa naik lebih dari 20% dibanding tahun 2020 yang produksinya di kisaran 24 juta ton hingga 25 juta ton.

"Kalau di rencana kita 30 juta ton produksi/tahun 2021. Akan lihat perkembangan. Kendala bukan stok tapi demand. Kalau demand banyak yaa.. tingkatkan produksi," ujar Direktur Utama PTBA, Arviyan Arifin kepada CNBC Indonesia di Jakarta, Rabu (27/1/2021).

Dia merasa, permintaan batu bara belum akan kembali stabil seperti semula, saat pandemi belum terjadi. Menurutnya, permintaan akan sangat tergantung dari bagaimana suksesnya program vaksinasi yang dilakukan pemerintah.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading