Kemendikbud Dorong D3 Diupgrade Jadi Sarjana Terapan

Market - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
03 February 2021 13:52
Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud RI Wikan Sakarinto  (Tangkapan Layar)

Jakarta, CNBC Indonesia- Pendidikan D3 seringkali dipandang sebelah mata dalam dunia kerja karena diragukan kemampuan dan kompetensinya. Padahal melalui transformasi pendidikan vokasi, lulusan D3 kini layak diperhitungkan di dunia kerja karena adanya peningkatan kompetensi melalui kombinasi dengan sarjana terapan.

"D3 itu seringkali dilihat sebagai looser, makanya kami mendorong D3 di-upgrade menjadi sarjana terapan setara S1 atau D4, dan kalau butuh tenaga kerja teknis bisa D2," kata Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Wikan Sakarinto dalam Webinar Dies Natalis Ditjen Pendidikan Vokasi "Anak Vokasi Jaman Now-Mengenal Vokasi Lebih Dekat" belum lama ini.

Dia mengungkapkan jika industri membutuhkan tenaga kerja seperti teknisi atau operator maka bisa mengambil lulusan D2. Rancangan kebijakan Kemendikbud yakni mendorong terbentuknya S2 terapan dan kelak nantinya S3 terapan. Nantinya lulusan D4 atau sarjana terapan, bisa melanjutkan S2 terapan baik di dalam maupun luar negeri, yang telah diinovasikan dengan link and match.

"Jadi vokasi dan dunia kerja harus menikah betul. Dengan terobosan ini kita menikahkan SMK dengan perguruan tinggi vokasi, bisa politeknik atau vokasi universitas kita nikahkan. Jadi sistem magang sambil kuliah di industri," katanya.

Wikan mengatakan dengan menggabungkan metode vokasi di Jepang dan Jerman serta disesuaikan maka SMK bisa digabungkan dengan dual sistem 3 semester, D3 dengan Fast track sarjana terapan, dan D4 digabungkan dengan fast track S2 terapan. Meski dia mengakui sebenarnya 80% lulusan vokasi bekerja karena telah mengembangkan lulusan kompeten dan siap pakai.

Dia mengatakan bukan hanya link and match, melalui MoU antara pendidikan vokasi dan industri tetapi benar-benar harus menghasilkan sesuatu. Dia menjabarkan ada delapan paket vokasi yang harus dipenuhi dalam vokasi masa depan, lima diantaranya yakni kurikulum harus super match dengan dunia industri, kemudian memiliki soft skill dan karakter yang diberikan sesuai masalah di industri, guru tamu dari industri harus mengajar vokasi minimal 50 jam per semester untuk setiap prodi.

"Kemudian ada magang minimal satu semester baik untuk SMK maupun Perguruan tinggi vokasi. Yang tidak boleh tertinggal adalah sertifikasi kompetensi tidak hanya ijazah tetapi sertifikasi kompetensi," kata Wikan.

Wikan menegaskan bagi yang ingin menempuh pendidikan vokasi agar tidak khawatir karena telah dirancang dengan link and super match, setelah reformasi yang dilakukan Kemendikbud. Dia menyebutkan satu prodi minimal memiliki 5 pasangan industri.

"Kami rancang satu prodi minimal punya 5 pasangan industri yang kuat kemudian kita juga mewajibkan soft skill dikembangkan. Siswa tinggal memilih saja vokasi yang memang analitical atau hands on lebih ke teknis," ujarnya.



[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading