Kembangkan Kualitas Vokasi, Ini Usul dari Pelaku Usaha

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
21 December 2020 19:50
Direktur Utama PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) Iwan Setiawan Lukminto dalam acara Vocational Outlook 2020. (Tangkapan Layar)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex mengatakan sebagai salah satu perusahaan tekstil yang sudah melakukan ekspor hingga ke penjuru dunia, dirinya punya strategi khusus dalam mempertahankan bisnisnya. Salah satunya pelatihan khusus kepada karyawannya.

Direktur Utama Sritex Iwan Setiawan mengatakan Indonesia memiliki kekuatan manufaktur dan vokasi yang semestinya bisa diperkuat dengan aturan-aturan yang bisa menguatkan strategi untuk jangka panjang.

Apalagi UMKM yang juga merupakan salah satu penopang ekonomi Indonesia, juga harus bisa mendapatkan kolaborasi dengan perusahaan besar.


"Kalau kita mau memperbesar UMKM, salah satu stepnya dengan mengembangkan manufacturing dan perusahaan besar pun harus diperkuat juga. UMKM perlu adanya pendampingan perusahaan besar di Indonesia," kata Iwan Indonesia Vocational Outlook 2020 pada Senin (21/12/2020).

"Pendampingan ini tentunya dengan vokasi sangat membantu. Karena skill bisa kita naikan, ongkos training bisa lebih rendah, karena sudah di didik dari awal," kata Iwan melanjutkan.

Sritex sendiri memiliki cara tersendiri dalam mengembangkan kemampuan pegawainya. Salah satu cara yang ditempuh dengan pendidikan dan pelatihan (Diklat).

Pasalnya di Indonesia, ilmu formalitas untuk sektor tekstil masih jarang ditemui. Oleh karena itu, diklat menjadi salah satu strategi Sritex dalam mengembangkan kemampuan karyawannya.

"Kami berusaha pendidikan (diklat) itu disesuaikan dengan teknologi sekarang. Kita selalu berusaha dan memperkaya ilmunya dengan yang terupdate. Intinya tim teknologi yang ada, sustainability mesin itu lebih canggih dari yang sebelumnya," jelas Iwan.

Selain melakukan diklat kepada pegawainya, Sritex juga melakukan kolaborasi dengan akademisi di luar negeri. Berbagi ilmu pengetahuan dengan negara lain juga, kata Iwan menjadi penting.

"Kita kolaborasi dengan akademi tekstil di Jerman. Transfer of knowledge itu penting," tuturnya.

Iwan juga memandang agar para calon tenaga kerja yang ingin mendapatkan ilmu dengan magang, seharusnya melakukan magang dengan waktu paling lama 6 bulan, agar bisa mendapatkan ilmu dan keterampilan yang maksimal.

"Yang optimal itu 3 bulan, tapi lebih bagusnya sekitar 6 bulan, supaya betul merasakan industri itu seperti apa. Kita bisa mempelajari management, organization behaviour, culture, dan sebagainya," jelas Iwan.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading