Pandemi, Laba Bersih BNI Capai Rp 3,3 T di 2020

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
29 January 2021 17:34
BNI memperingati Hari Lahir Pancasila melalui layar LED Gedung Menara BNI. (Dok.BNI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten bank BUMN, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatatkan laba bersih konsolidasi sepanjang tahun lalu mencapai Rp 3,3 triliun atau turun 78,54% dari tahun 2019 sebesar Rp 15,38 triliun.

"Kami di BNI sepanjang tahun lalu memacu diri agar 2021 menjadi lebih baik dengan membuat lompatan bisnis. Langkah yang kami lakukan, perseroan dapat hasil menggembirakan, pemulihan lebih cepat terwujud," kata Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, dalam paparan virtual di Jakarta, Jumat (29/1/2021).

Dalam kesempatan tersebut, Novita Widya Anggraini, Direktur Keuangan BNI, mengatakan BNI terus beradaptasi di tengah pemulihan, dengan catatan kredit disalurkan 2020 sebesar Rp 586,2 triliun, naik 5,3% yoy (year on year).


Pada tahun 2020, perseroan mampu menjaga NIM (net interest margin) di level 4,5% melalui strategi manajemen biaya dana yang efektif.

BNI mencatatkan biaya dana (cost of fund) yang terus mengalami perbaikan di setiap kuartalnya, terutama pada kuartal IV-2020 yang berada pada level 2,0% atau membaik 60 basis poin (bps) dari kuartal sebelumnya, sehingga biaya dana atau cost of fund (cof) pada akhir 2020 turun menjadi 2,6% dari 3,2% di 2019.

Sementara itu, di tengah kondisi perekonomian yang menantang, katanya, perseroan dapat merealisasikan pendapatan non bunga atau fee based income Rp 11,9 triliun atau tumbuh 4,5% dari periode yang sama tahun 2019, serta dapat melakukan efisiensi biaya operasional yang hanya tumbuh 2,2% YoY.

"Kedua hal ini menjadi sasaran utama perusahaan selama masa pandemi untuk meredam tekanan pendapatan bunga yang turun 4,0% YoY dalam rangka pemberian stimulus restrukturisasi kredit kepada para debitur yang terdampak oleh pandemi, serta berkontribusi pada pencapaian pertumbuhan laba sebelum provisi dan pajak (PPOP) sebesar Rp 27,8 triliun pada akhir 2020," jelasnya.

"Tahun 2020, BNI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 3,3 triliun disertai dengan rasio kecukupan pencadangan atau coverage ratio berada pada level 182,4% lebih besar dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 133,5%."

Dia mengatakan, laba sebelum provisi dan pajak atau sebesar Rp 27,8 triliun pada akhir 2020 mendekati posisi sebelum pandemi Covid.

"Pada 2021, BNI akan melakukan langkah dengan lebih optimis setelah melalui tantangan cukup berat selama masa awal pandemi," katanya.

Pada Desember 2020, penyaluran kredit di segmen korporasi meningkat 7,4% YoY menjadi Rp 309,7 triliun.

Sementara itu, pertumbuhan kredit kepada segmen bisnis kecil masih sustain sebesar 12,3% YoY menjadi Rp 84,8 triliun. Demikian juga kredit konsumer yang masih tumbuh 4,7% YoY menjadi Rp 89,9 triliun pada akhir tahun lalu.

Pertumbuhan kredit segmen kecil terutama disalurkan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), adapun kredit konsumer sebagian besar tersalurkan dalam bentuk kredit pemilikan rumah dan payroll loan.

Penyaluran kredit tersebut ditopang oleh akumulasi Dana Pihak Ketiga (DPK). Pada akhir tahun 2020, DPK tumbuh 10,6% YoY menjadi sebesar Rp 679,5 triliun.

"Strategi perseroan untuk terus fokus pada peningkatan dana murah tercermin dari rasio CASA pada akhir Desember 2020 yang berada di level 68,4% atau meningkat 160 bps secara YoY. Upaya perseroan dalam peningkatan CASA berhasil menekan biaya dana pihak ketiga. Dampak positif dari penurunan biaya dana pihak ketiga ini diteruskan oleh bank kepada nasabah dalam bentuk penurunan suku bunga kredit."

Dia mengatakan BNI menjadi salah satu bank yang aktif mendukung upaya-upaya pemerintah menekan dampak Pandemi Covid-19, mulai dari restrukturisasi kredit hingga program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

BNI telah membukukan pinjaman yang direstrukturisasi dengan stimulus Covid-19 sebesar Rp 102,4 triliun atau 18,6% dari total pinjaman.

Berdasarkan segmen bisnis, restrukturisasi kredit diberikan kepada segmen Korporasi sebesar Rp 44,2 triliun, segmen Menengah Rp 21 triliun, segmen Kecil Rp 28 triliun, dan Rp 9,2 triliun untuk segmen Konsumer.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading