CASA Meningkat, Biaya Dana BNI Turun Signifikan Jadi 2,6%

News - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
29 January 2021 17:46
Dok: BNI

Jakarta, CNBC Indonesia- Di tengah pandemi Covid-19, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk berhasil meningkatkan rasio dana murah yang akhir menurunkan biaya dana.

Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan bahwa dana pihak ketiga BNI pada akhir 2020 mencapai Rp 679,5 triliun tumbuh 10,6% dibandingkan dengan setahun lalu.

"Strategi perseroan fokus pada peningkatan dana murah sehingga rasio CASA akhir Desember mencapai 68,4%. Meningkat 160 bps secara yoy," ujar Novita dalam konferensi pers laporan keuangan 2020, Jumat (29/1/2021).


Hal ini berdampak terhadap biaya dana (cost of fund) yang terus mengalami perbaikan sehingga pada Kuartal IV-2020 yang berada pada level 2,0% atau membaik 60 basis poin dari kuartal sebelumnya. Cost of fund pada akhir 2020 turun menjadi 2,6% dari 3,2% di 2019.

Pada kesempatan yang sama Novita menjelaskan penyaluran kredit pada 2020 sebesar Rp 586,2 triliun atau tumbuh 5,3% YoY. Rinciannya, kredit di segmen korporasi meningkat 7,4% YoY menjadi Rp 309,7 triliun. Sementara itu, pertumbuhan kredit kepada segmen bisnis kecil masih sustain sebesar 12,3% YoY menjadi Rp 84,8 triliun. Demikian juga kredit konsumer yang masih tumbuh 4,7% YoY menjadi Rp 89,9 triliun pada akhir tahun lalu.

BNI mencatatkan laba bersih konsolidasi sepanjang tahun lalu mencapai Rp 3,3 triliun atau terkontraksi 78,54% dari tahun 2019 sebesar Rp 15,38 triliun.

"Kami di BNI sepanjang tahun lalu memacu diri agar 2021 menjadi lebih baik dengan membuat lompatan bisnis. Langkah yang kami lakukan, perseroan dapat hasil menggembirakan, pemulihan lebih cepat terwujud," kata Royke Tumilaar.

Perseroan dapat merealisasikan pendapatan non bunga atau fee based income sebesar Rp 11,9 triliun atau tumbuh 4,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2019, serta dapat melakukan efisiensi biaya operasional yang hanya tumbuh 2,2% YoY.

Kedua hal ini menjadi sasaran utama perusahaan selama masa pandemi untuk meredam tekanan pendapatan bunga yang turun 4,0% YoY dalam rangka pemberian stimulus restrukturisasi kredit kepada para debitur yang terdampak oleh pandemi, serta berkontribusi pada pencapaian pertumbuhan laba sebelum provisi dan pajak (PPOP) sebesar Rp 27,8 triliun pada akhir 2020.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Terungkap! Ini Strategi BNI Dorong UMKM Jadi Pemain Global


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading