Merosot! Harga Si Minyak Nabati CPO Ambrol 4% Sepekan

Market - Putra, CNBC Indonesia
24 January 2021 14:15
CPO

Jakarta, CNBC Indonesia -Harga kontrak futures (berjangka) minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) anjlok signifikan pada perdagangan pekan ini. Merosotnya harga kontrak yang aktif ditransaksikan di Bursa Malaysia Derivatif ini karena ekspor Negeri Jiran yang turun tajam di bulan Januari.

Sepekan terakhir, harga kontrak CPO April ambles 4,12%. Kini harga CPO sudah berada di level RM 3.282/ton. Minyak nabati sudah terkoreksi parah dari posisi puncaknya dari posisi awal Januari di harga RM 3.877/ton



Survei yang dilakukan oleh AmSpec Agri Malaysia menunjukkan bahwa ekspor minyak sawit Malaysia pada periode 1-20 Januari drop 41% dibanding periode yang sama bulan lalu menjadi 632.827 ton. Padahal di periode yang sama bulan lalu ekspor Malaysia tercatat sebesar 1.073.663 ton.

Harga CPO drop lantaran pasar utama ekspor minyak sawit Malaysia yaitu China lebih memilih membeli minyak sawit dari rivalnya yaitu Indonesia. Harga yang sudah mahal ditambah dengan pajak ekspor yang tinggi menjadi faktor penyebabnya. Pajak ekspor minyak sawit Malaysia untuk bulan Februari ditetapkan sebesar 8%.

"Harga minyak sawit terkoreksi lebih rendah karena adanya pembahasan kesepakatan perdagangan yang lebih baik antara China dan Indonesia dengan komitmen untuk mengimpor lebih banyak komoditas Indonesia," kata Marcello Cultrera, manajer penjualan kelembagaan dan pialang di Phillip Futures di Kuala Lumpur kepada Reuters.

Lebih lanjut Reuters melaporkan, China akan mengimpor lebih banyak produk Indonesia, seperti minyak sawit, dan meningkatkan investasi di ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Kini tidak hanya batu bara saja yang bakal diimpor oleh China lebih banyak. Komoditas lain seperti minyak sawit pun juga ikut terimbas berkahnya.

Dalam laporan terbarunya Fitch Solutions meramal harga minyak sawit kemungkinan akan berada pada level tertinggi 11 tahun di RM 3.050 ringgit (US$ 753,6) per ton pada tahun 2021 karena pasokan yang ketat dan konsumsi yang kuat sebelum turun tahun depan karena kenaikan produksi.

Harga minyak sawit diperkirakan akan terus menurun dalam waktu dekat dari level saat ini karena permintaan dari China dan India turun sebagai akibat dari harga yang tidak kompetitif.

Output minyak sawit akan meningkat di Asia Tenggara mulai paruh kedua tahun ini, sementara harga kedelai pengganti utama dan harga minyak kedelai kemungkinan akan turun akhir tahun ini, tulis Fitch Solutions sebagaimana diwartakan Reuters.

"Namun, akan membutuhkan waktu untuk membangun kembali stok karena saat ini berada di posisi terendah sejak bertahun-tahun dan karena pertumbuhan konsumsi akan kuat tahun ini. Ini akan mendukung harga minyak sawit pada 2021 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," kata Fitch Solutions.

Kekurangan tenaga kerja karena lockdown di Malaysia akibat pandemi telah membebani produksi, mengikis persediaan ke posisi terendah dalam beberapa tahun terakhir dan meningkatkan harga sebesar 18% pada tahun 2020.

"Namun, pada tahun 2022, harga rata-rata akan turun menjadi RM 2.600 per ton karena pertumbuhan produksi minyak sawit diperkirakan akan meningkat di tengah hasil yang lebih tinggi dan penggunaan pupuk yang lebih tinggi," terang Fitch Solutions.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading