Analisis

Emas Meroket 52% di Rezim Trump, Era Biden Bisa Gak Melesat?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 January 2021 15:53
President Donald Trump and first lady Melania Trump walk to board Marine One on the South Lawn of the White House, Wednesday, Jan. 20, 2021, in Washington. Trump is en route to his Mar-a-Lago Florida Resort. (AP Photo/Alex Brandon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Donald Trump resmi lengser dari jabatannya sebagai orang nomer 1 di Amerika Serikat (AS) pada Rabu (20/1/2021) waktu setempat.

Trump kalah dalam pemilihan umum melawan Joseph 'Joe' Biden, pada bulan November lalu. Joe Biden kemudian resmi dilantik menjadi Presiden AS ke-46 pada Rabu lalu, bersama pasangannya Kamala Devi Harris sebagai Wapres AS.

Selama rezim Trump berkuasa, banyak dampak yang diberikan di pasar finansial. Salah satu yang paling mencolok adalah meroketnya harga emas dunia.


Sejak Trump menjadi AS 1, pada 20 Januari 2017, hingga lengser di pekan ini, harga emas dunia mencatat kenaikan sebesar 52,67%. Bahkan pada 7 Agustus lalu mencetak rekor tertinggi sepanjang masa US$ 2.072,49/troy ons.

Memang, pemicu utama kenaikan emas di tahun lalu adalah pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang membuat perekonomian global mengalami resesi.

Tetapi ada peran Trump juga dalam meroketnya harga logam mulia. Pada bulan Maret 2020, Trump menggelontorkan stimulus fiskal senilai US$ 2 triliun, terbesar sepanjang sejarah.

Stimulus fiskal serta stimulus moneter merupakan bahan bakar utama bagi emas untuk menguat. Tapi sekali lagi, kedua stimulus tersebut digelontorkan akibat pandemi Covid-19.

Stimulus fiskal dan moneter memberikan dua efek positif bagi emas. Pertama stimulus tersebut berpotensi memicu kenaikan inflasi, dan emas secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi.

Kemudian yang kedua, stimulus fiskal dan moneter membuat nilai tukar dolar AS melemah. Emas dunia dibanderol dengan dolar AS, saat the greenback melemah, maka harganya akan lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya. Alhasil, permintaan emas berpotensi meningkat.

Dengan demikian, stimulus fiskal memberikan efek ganda yang positif bagi harga emas.

Sebelum kenaikan tajam tahun lalu, harga emas dunia sebenarnya juga sudah melesat di tahun 2019. Sekali lagi, ada peran besar seorang Donald Trump dibalik melesatnya harga emas, meski hal tersebut bukan merupakan tujuannya.

Trump mengobarkan perang dagang dengan China sejak tahun 2018. Perekonomian global terkena getahnya di tahun 2019, pertumbuhan menjadi melambat termasuk AS dan China. Ketika 2 raksasa ekonomi dunia tersebut mengalami pelambatan, seluruh dunia juga terseret.

Guna memacu perekonomian yang melambat akibat perang dagang yang dikobarkan Trump, bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memangkas suku bunga acuan sebanyak 3 kali masing-masing 25 basis poin (bps) menjadi 1,75%.

Pelambatan ekonomi global dan pemangkasan suku bunga The Fed membuat harga emas sepanjang 2019 melesat 18,26%, menjadi kenaikan terbesar sejak tahun 2010.

Selama 4 tahun Trump menjabat Presiden AS, harga emas dunia hanya mengalami pelemahan di tahun 2018, itu pun hanya 1,51%. Sementara di tahun 2017, emas mencatat penguatan 13,11%.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Bagaimana Kinerja Emas di Era Biden 4 Tahun ke Depan? 

Bagaimana Kinerja Emas di Era Biden 4 Tahun ke Depan?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading