Analisis

Emas Meroket 52% di Rezim Trump, Era Biden Bisa Gak Melesat?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 January 2021 15:53
Lady Gaga menyanyikan lagu kebangsaan Amerika Serikat pada pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS ke-46 di Gedung Capitol, Washington DC, Rabu (20/1/2021). (AP/Andrew Harnik)

Harga emas dunia langsung meroket 1,72% ke US$ 1.870,90/troy ons saat Biden dilantik menjadi Presiden AS Rabu lalu. Biden pada pekan lalu mengungkapkan rencana stimulus fiskal senilai US$ 1,9 triliun.

Selain pelantikan Biden, Senat AS yang sebelumnya dikuasai oleh Partai Republik, kini dikuasai oleh Partai Demokrat. Sehingga blue wave atau kemenangan penuh Partai Demokrat berhasil dicapai.

Parlemen AS menganut sistem 2 kamar, House of Representative (DPR) yang sudah dikuasai Partai Demokrat sejak lama, dan Senat yang pada rezim Donald Trump dikuasai Partai Republik.


Dengan dikuasainya DPR dan Senat, tentunya akan memudahkan dalam mengambil kebijakan, termasuk dalam meloloskan paket stimulus fiskal US$ 1,9 triliun.

Seperti diungkapkan sebelumnya, stimulus fiskal merupakan bahan bakar emas untuk menguat, sehingga harga emas berpeluang untuk kembali melesat. Selain itu The Fed juga masih menjalankan program pembelian aset (quantitative easing/QE) senilai US$ 120 miliar per bulan, dan suku bunga tidak akan dinaikkan hingga tahun 2023.

Faktor-faktor tersebut sama dengan tahun 2020 lalu, sehingga peluang harga emas menguat terbuka cukup lebar.

Kitco melakukan survei di akhir tahun lalu, terhadap pelaku pasar maupun para analis. Hasilnya survei yang melibatkan 2.000 pelaku pasar, sebanyak 84% memprediksi harga emas akan kembali ke atas US$ 2.000/troy ons di akhir tahun ini. Yang paling banyak memprediksi emas berada di kisaran US$ 2.300/troy ons.

Hasil survei terhadap pelaku pasar tersebut sejalan dengan proyeksi analis yang disurvei Kitco. Analis dari Goldman Sachs, Commerzbank, dan CIBC memperediksi harga emas akan mencapai US$ 2.300/troy ons di tahun ini.

Namun bagaimana 4 tahun ke depan?

Jika ke belakang, kebijakan moneter yang diambil The Fed sama persis dengan tahun 2008 saat terjadi krisis finansial global.

Saat itu, QE dilakukan dalam 3 periode. QE 1 dilakukan mulai November 2008, kemudian QE 2 mulai November 2010, dan QE 3 pada September 2012.

Emas dunia mencapai periode kejayaannya saat QE 2 berlangsung. Sementara masa kemerosotan dimulai tepat sebulan setelah QE 3 dimulai. Sebabnya, perekonomian Amerika Serikat yang mulai membaik, dan ada isu jika QE akan segera dihentikan dalam waktu dekat.

Sejak tahun 2008, harga emas pun terus menanjak hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa masa US$ 1.920.3/troy ons pada 6 September 2011 sebelum dipecahkan pada tahun lalu.

Pada pertengahan tahun 2013 The Fed yang saat itu dipimpin Ben Bernanke akhirnya mengeluarkan wacana untuk mengurangi (tapering) QE.

Saat wacana tersebut muncul dolar AS menjadi begitu perkasa, hingga ada istilah "taper tantrum". Maklum saja, sejak diterapkan suku bunga rendah serta QE, nilai tukar dolar AS terus merosot. Sehingga saat muncul wacana pengurangan QE hingga akhirnya dihentikan dolar AS langsung mengamuk, "taper tantrum", mata uang lainnya dibuat rontok oleh the greenback. Penguatan dolar tersebut menambah pukulan bagi emas.

Harga emas terus merosot hingga ke titik terendah yang dicapai yakni US$ 1.045,85/troy ons pada 3 Desember 2015. Artinya, jika dilihat dari rekor tertinggi 6 September 201 hingga ke level terendah tersebut, harga emas dunia ambrol 45,54% dalam tempo 4 tahun.

Jika melihat sejarah tersebut, tapering merupakan musuh utama emas, dan saat ini sudah ada "bisik-bisik" di pasar The Fed akan melakukan tapering di akhir tahun ini.

Seandainya perekonomian AS membaik di tahun ini, apalagi vaksinasi massal sudah mulai dilakukan, bukan tidak mungkin bank sentral paling powerful di dunia tersebut akan melakukan tapering di akhir 2021. Harga emas pun terancam longsor.

Meski demikian, banyak analis yang memprediksi harga emas masih akan terus menguat, bahkan ada yang mengatakan tahun ini merupakan awal dari supercylce atau periode kenaikan tajam harga emas dalam jangka panjang.

Profesor ekonomi terapan di John Hopkins University, Steve Hanke, dalam wawancara dengan Kitco, Selasa (22/12/2020), mengatakan komoditas termasuk emas akan memasuki fase supercycle tersebut pada tahun 2021 mendatang.

"Supply sangat terbatas, stok rendah, dan ekonomi mulai bangkit dan maju ke depan, harga komoditas akan naik dan memulai supercycle. Saya pikir saat ini kita sudah melihat tanda awalnya," kata Hanke, sebagaimana dilansir Kitco.

Andy Hecht dari bubbatrading.com menjadi salah satu analis yang juga memprediksi emas masuk supercycle. Hetch bahkan mengatakan senang melihat harga emas turun di bawah US$ 1.900/troy ons.

"Saya menyambut penurunan harga emas, saya ingin melihat harga emas turun, itu artinya saya akan membeli lebih banyak emas," kata Hecht sebagaimana dilansir Kitco, Kamis (23/10/2020).

"Saya melihat kita masih di tahap awal supercycle komoditas, itu artinya emas akan melesat tinggi, begitu juga dengan perak," katanya.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading