Tak Cuma Milenial, Saham Gorengan Bikin Isaac Newton Bangkrut

Market - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
20 January 2021 16:07
Isaac Newton. Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa waktu belakangan, jagat sosial media diramaikan dengan milenial yang terjun langsung berinvestasi di pasar modal melalui pembelian sejumlah saham.

Setiap harinya, di antara mereka sibuk mengulas saham apa yang menjadi andalan dan berlomba unjuk gigi mengulas portofolio yang menjadi andalannya. Tak sedikit diantaranya terlihat hanya mengikuti arus dalam menentukan pembelian saham yang akan dilakukan.

Fenomena ini bukan omong kosong, berdasarkan data memang ada kenaikan jumlah investor ritel domestik yang tumbuh pesat. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat hingga akhir 2020, jumlah investor domestik yang tercermin dalam Single Investor (SID) mencapai 3,8 juta. Bahkan data terakhir menyebutkan sudah mencapai 4 juta.


Sebagai perbandingan, tahun 2019, jumlah investor domestik masih berada di kisaran 2,5 juta orang. Yang artinya adalah dalam satu tahun terjadi pertambahan lebih dari 40%.

Bergabungnya milenial ke pasar modal otomatis membuat perdagangan saham lebih ramai. Rata-rata nilai transaksi harian saat ini menyentuh Rp 21 triliun, dibanding tahun 2019 yang angkanya hanya Rp 8 triliun.

Sayangnya, naiknya jumlah investor ini tak lantas diikuti dengan kemampuan yang mumpuni dalam melihat pergerakan harga saham. Tak sedikit dari mereka yang hanya mengandalkan "kicauan" pada akun media sosial seperti twitter.

Investasi saham di pasar modal memang menarik. Sejatinya, hanya dengan Rp 100 ribu saja, sudah bisa melakukan investasi. Sayangnya, bagi mereka yang masih "hijau" ini, Rp 100 ribu seolah-olah tidak memberikan hasil yang maksimal dalam berinvestasi.

Dari sinilah persoalan dimulai. Investor milenial ini memanfaatkan fasilitas trading limit (TL) dan margin untuk mendapatkan imbal hasil yang jauh lebih besar dari modal yang digunakan.

Fasilitas ini tentu menarik, karena dengan memanfaatkannya, maka modal yang dimiliki bisa naik hingga 4x. Otomatis ini akan mempengaruhi jumlah keuntungan yang didapat, jika saham yang dibeli hari itu ternyata melesat beberapa persen.

Pesan moral dari fasilitas ini adalah, penggunaan limit dan margin yang dilandasi dengan manajemen risiko yang baik akan membuat investor berhasil mendulang cuan berkali-kali lipat dari modal. Sayangnya, banyak dari investor pemula yang menggunakan fasilitas ini, namun alih-alih kantongi keuntungan, saham-saham yang diborong justru mendadak dilanda ARB.

Imbasnya, investor amatiran ini tak mampu menutup pinjaman yang diberikan sekuritas, maka akhirnya hal ini memaksa broker melakukan force sell. Bahkan tercatat salah satu broker besar Tanah Air sampai memberikan himbauan agar nasabahnya bertransaksi dengan kapasitas modal masing-masing karena banyaknya nasabah yang tidak mampu membayar pinjamannya pada masa akhir pembayaran TL (T+2) meningkat akhir-akhir ini.

Ternyata, kekeliruan yang dilakukan investor amatiran ini pernah terjadi 300 tahun yang lalu. Tepatnya pada tahun 1720, Ilmuwan Isaac Newton mengantongi saham di South Sea Company.

Saat itu, merasa sudah mengantongi keuntungan 100%, Newton menjual kepemilikan sahamnya dengan total senilai £ 7.000. Beberapa bulan kemudian, terseret dalam arus serta antusiasme investor yang liar, dirinya kembali terjun dan memiliki saham di perusahaan yang sama, dengan harga lebih tinggi.

Sayangnya, kali ini keberuntungan tak berpihak kepadanya. Newton harus menelan pil pahit karena kehilangan £ 20.000 dari pembelian saham tersebut. Sejak saat itu, sampai sisa akhir hidupnya, Newton sangat anti dan melarang siapapun mengucapkan kata South Sea Company dihadapannya.

Cerita ini dikisahkan oleh Benjamin Graham dalam bukunya "The Investor Intelligent Investor" yang mengutip Jason Zweig dari WSJ. Atau seperti yang dijelaskan oleh Graham, "Karena memang, masalah utama investor dan bahkan musuh terbesarnya, kemungkinan besar adalah dirinya sendiri," demikian mengutip businessinsider, Rabu (20/1/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading