Alamak! Harga CPO Terjun Bebas, Sekarang Dekati RM 3.500

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
15 January 2021 13:33
Ilustrasi kelapa sawit. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kontrak futures (berjangka) minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) akhirnya longsor ke bawah RM 3.600. Pada perdagangan hari ini, Jumat (15/1/2021) harga kontrak yang aktif ditransaksikan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange turun lagi mendekati RM 3.500/ton.

Pada istirahat siang harga kontrak CPO yang berakhir Maret itu turun 0,14% ke RM 3.522/ton. Sehingga harga CPO drop 9,15% dari level penutupan tertingginya pada 6 Januari lalu di RM 3.877/ton.


Harga CPO yang sudah melesat tajam hingga tembus rekor tertinggi dalam hampir 10 tahun memang rawan mengalami koreksi. Koreksi yang terjadi baru-baru ini karena kabar dari China.

China lebih memilih membeli minyak sawit dari Indonesia. Harga yang sudah mahal ditambah dengan pajak ekspor yang tinggi menjadi faktor penyebabnya. Pajak ekspor minyak sawit Malaysia untuk bulan Februari ditetapkan sebesar 8%.

"Harga minyak sawit terkoreksi lebih rendah karena adanya pembahasan kesepakatan perdagangan yang lebih baik antara China dan Indonesia dengan komitmen untuk mengimpor lebih banyak komoditas Indonesia," kata Marcello Cultrera, manajer penjualan kelembagaan dan pialang di Phillip Futures di Kuala Lumpur kepada Reuters.

Lebih lanjut Reuters melaporkan, China akan mengimpor lebih banyak produk Indonesia, seperti minyak sawit, dan meningkatkan investasi di ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Kini tidak hanya batu bara saja yang bakal diimpor oleh China lebih banyak. Komoditas lain seperti minyak sawit pun juga ikut terimbas berkahnya. 

Di saat yang sama kasusCovid-19 di China juga mengalami lonjakan yang signifikan setelah selama ini dinyatakan aman. 

Pada hari Rabu, Komisi Kesehatan Nasional melaporkan total 115 kasus baru yang dikonfirmasi di daratan, dibandingkan dengan 55 hari sebelumnya, peningkatan harian tertinggi sejak 30 Juli. Dikatakan 107 dari kasus baru adalah infeksi lokal.

Sebagian besar kasus baru dilaporkan di dekat ibu kota, Beijing, tetapi sebuah provinsi di timur laut jauh juga mengalami peningkatan infeksi. Hebei, provinsi yang mengelilingi Beijing, menyumbang 90 kasus, sementara provinsi Heilongjiang timur laut melaporkan 16 kasus baru.

Kenaikan kasus infeksi membuat beberapa wilayah di China harus kembali menerapkan karantina dan pengetatan pembatasan sosial. Di antara provinsi-provinsi tersebut ada Shijiazhuang, Xingtai dan Langfang.

Sementara itu Beijing juga meningkatkan kewaspadaan melalui skrining untuk mencegah terbentuknya klaster di wilayah tersebut. Gelombang infeksi kemungkinan akan meredam liburan Tahun Baru Imlek bulan depan, ketika ratusan juta orang biasanya melakukan perjalanan ke kota asal mereka.

Jauh lebih sedikit yang diperkirakan akan melakukan pekerjaan tahun ini, dan banyak provinsi telah meminta pekerja migran untuk tetap tinggal selama liburan.

Pada dasarnya lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di China patut untuk dicermati mengingat di negara tersebut wabah Covid-19 mulai merebak di awal. Akibat pengetatan yang dilakukan kemungkinan besar konsumsi minyak sawit akan menjadi lebih rendah dan kebijakan restocking juga akan menurun pasca festival Imlek.

Harga minyak mentah yang tertekan juga menjadi sentimen negatif lain yang menekan harga CPO hari ini.


TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading