Harga Batu Bara Sempat Longsor, Jangan Sedih, Masih Ada Kans!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
04 January 2021 08:51
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang tahun 2020 harga kontrak futures batu bara berhasil terapresiasi 18,4%. Prospek harga si batu legam untuk tahun 2021 masih positif ditopang oleh prospek 'super cycle' komoditas.

Harga kontrak batu bara Newcastle yang aktif diperdagangkan di bursa berjangka ditutup di US$ 81,75/ton di akhir tahun. Harga batu bara sempat longsor dari level tertingginya di US$ 85/ton. 

Koreksi yang terjadi merupakan koreksi yang sehat mengingat harga batu bara sudah reli kencang sejak pertengahan bulan Oktober.


Kebangkitan ekonomi China dan booming sektor infrastrukturnya di tengah rendahnya suku bunga membuat kebutuhan akan berbagai komoditas terutama logam dasar (base metal) seperti tembaga akan meningkat. 

Peningkatan kebutuhan listrik serta geliat sektor manufaktur China diperkirakan bakal mendongkrak permintaan impor batu bara sebagai bahan bakar saat pasokan di China sedang ketat-ketatnya.

Menurut laporan baru dari Badan Energi Internasional, kemungkinan pulihnya kembali ekonomi global pada 2021 diperkirakan akan mendorong rebound jangka pendek dalam permintaan batu bara menyusul penurunan besar tahun ini yang dipicu oleh krisis Covid-19.

Berdasarkan asumsi pemulihan ekonomi dunia, laporan IEA memperkirakan permintaan batu bara global akan meningkat kembali sekitar 2,6% pada tahun 2021, didorong oleh permintaan listrik dan output industri yang lebih tinggi di kawasan Asia, terutama China, India, dan Kawasan Asia Tenggara.

Ekonomi China, India, dan Asia Tenggara bertanggung jawab atas sebagian besar pertumbuhan, meskipun Amerika Serikat dan Eropa mungkin juga mengalami kenaikan konsumsi batu bara pertama mereka dalam hampir satu dekade.

Namun, permintaan batu bara global pada 2021 diperkirakan masih akan berada di bawah level 2019 dan bahkan bisa lebih rendah jika asumsi laporan untuk pemulihan ekonomi, permintaan listrik, atau harga gas alam tidak terpenuhi.

Kendati prospek untuk bahan bakar fosil ini masih cerah tetapi risiko masih ada. Perkembangan Covid-19 di dunia semakin mengkhawatirkan. Kasus Covid-19 di AS secara kumulatif tembus 20 juta.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memutuskan untuk menutup sekolah dasar ketika Negeri John Bull sedang terjangkit varian baru virus Corona. Kenaikan kasus harian Covid-19 yang mencetak rekor di Jepang membuat pemerintahnya tengah mempertimbangkan untuk mendeklarasikan kondisi darurat nasional.

Apabila perkembangan tersebut berujung pada lockdown yang semakin marak maka jelas menjadi sentimen negatif untuk harga komoditas tak terkecuali batu bara.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading