Welcome 2021, Deretan Good News Pasar Modal Ini Patut Disimak

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
04 January 2021 06:21
foto : CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup minus 0,95% di level 5.979,07 pada perdagangan terakhir di tahun 2020, yakni Rabu (30/12.

Data BEI mencatat, nilai transaksi perdagangan mencapai Rp 14,51 triliun, dengan volume perdagangan 24,71 miliar saham, dan frekuensi perdagangan 1,17 juta kali transaksi.

Secara year to date IHSG terkoreksi 5,09%, kendati secara 6 bulan terakhir melesat 19,87%.


Sebagai perbandingan, tahun 2019, saat penutupan perdagangan saham, IHSG ditutup turun 29,77 poin atau 0,47% ke posisi 6.299,53.

Sepanjang tahun lalu, ada begitu banyak peristiwa yang terjadi. Pandemi virus Corona tentu menjadi isu utamanya. Indonesia pun ikut terkena dampak hantaman Covid-19 yang membuat ekonomi nasional mengalami resesi dalam 22 tahun terakhir setelah dua kuartal beruntun nilai Produk Domestik Bruto (PDB) domestik terkontraksi.

Di pasar modal, ketidakpastian yang begitu tinggi membuat pasar saham terguncang yang membuat arus modal keluar (capital outflows) keluar dari bursa saham domestik.

IHSG juga sempat terjerembab ke level terendahnya di tahun 2020 pada level 3.997 pada 24 Maret 2020.

Kendati demikian, ada berbagai kabar baik yang direspons pelaku pasar dalam meredam dampak pandemi Covid-19 terhadap dunia usaha, baik melalui stimulus pemerintah, dan berbagai kebijakan di pasar modal, termasuk yang terbaru mengenai skenario vaksinasi massal di Indonesia.

Berikut ini rangkuman berbagai kabar positif di pasar modal yang dirangkum CNBC Indonesia sepanjang tahun 2020, untuk menjadi pertimbangan pada perdagangan awal tahun 2021 ini:

1.Implementasi Trading Halt

Trading halt atau penghentian perdagangan sementara ini adalah salah satu respons regulator pasar modal, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan SRO (self regulatory organization), dalam hal ini Bursa Efek Indonesia (BEI), untuk mencegah penurunan bursa saham lebih dalam, yakni menghentikan sementara perdagangan saham selama 30 menit jika terkoreksi 5% dalam sehari.

Penghentian sementara perdagangan ini dilakukan sesuai dengan Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 tanggal 10 Maret 2020 perihal Perubahan Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam Kondisi Darurat.

CNBC Indonesia mencatat, setidaknya sudah 7 kali trading halt diberlakukan. Misalnya, pada saat sesi I perdagangan di Bursa Efek Indonesia BEI) pada Kamis, (10/9/2020), setelah indeks terkoreksi 5%. Posisi terendah indeks berada di 4.886,98 poin.

IHSG tak sanggup menahan tekanan jual dari pelaku pasar. Trading halt terjadi pada pukul 10:36:18 waktu JATS sehingga indeks pun disuspensi selama 30 menit saat itu.

Pelemahan ini sudah terjadi sejak pembukaan perdagangan, di mana penurunan IHSG terjadi sebesar 4,08%, tapi kemudian minus lagi 5,05% di level 4.888. Tekanan jual asing cukup tinggi Rp 490 miliar di pasar reguler membuat indeks tak berdaya, investor lokal pun belum bisa menahan kejatuhan indeks. Nilai transaksi tercatat Rp 5,95 triliun.

Ini bukan pertama kalinya perdagangan saham di BEI dihentikan sementara. Tercatat berdasarkan data bursa, ini adalah ketujuh kalinya perdagangan dihentikan sejak Maret 2020 lalu.

Sebagai catatan, pertama kali indeks dihentikan pada jelang penutupan perdagangan sesi 2 pada 12 Maret 2020, saat itu indeks menyentuh posisi 4.895,74. Esok harinya, 15 menit usai pembukaan perdagangan IHSG kembali terperosok 5% ke posisi 4.650,58 tepatnya pada pukul 09:15:33 waktu JATS.

Masih pada bulan Maret, IHSG kembali dihentikan perdagangannya sementara pada pukul 15:02:44 waktu JATS dengan posisi indeks di 4.456,09 poin.

Koreksi hingga 5% kembali terjadi pada 23 Maret 2020 di mana pada pukul 14:52:09 waktu JATS, IHSG terkoreksi hingga posisi 3.985,07 poin. Lalu pada 30 Maret 2020 terjadi trading halt lagi.

2. Kebijakan Buyback Tanpa RUPS

Berikutnya, OJK mengizinkan semua emiten atau perusahaan publik melakukan pembelian kembali (buyback) saham sebagai upaya memberikan stimulus perekonomian dan mengurangi dampak pasar yang berfluktuasi secara signifikan.

Kebijakan OJK tersebut merespons perkembangan kondisi pasar saham domestik yang terkoreksi cukup dalam. IHSG sempat ambles 6,58% ke 5.136,81.

"Mencermati kondisi perdagangan saham di BEI sejak awal tahun 2020 sampai dengan hari ini 9 Maret 2020 terus mengalami tekanan signifikan yang diindikasikan dari penurunan IHSG sebesar 18,46% (year to date)," kata Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo, dalam siaran pers yang disampaikan, Senin (9/3/2020).

Menurut Anto, hal ini terjadi seiring dengan pelambatan dan tekanan perekonomian baik global, regional maupun nasional sebagai akibat dari wabah COVID-19 dan melemahnya harga minyak dunia. Untuk itu, OJK mengeluarkan kebijakan pelaksanaan pembelian kembali saham yang dikeluarkan oleh emiten atau perusahaan publik (buybacksaham).

Buyback saham oleh emiten atau perusahaan publik dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan dapat dilakukan tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS); dan jumlah saham yang dapat dibeli kembali dapat lebih dari 10% dari modal disetor dan paling banyak 20% dari modal disetor, dengan ketentuan paling sedikit saham yang beredar 7,5% dari modal disetor.

Ketentuan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran OJK Nomor 3/SEOJK.04/2020 tanggal 9 Maret 2020 tentang Kondisi Lain Sebagai Kondisi Pasar Yang Berfluktuasi Secara Signifikan Dalam Pelaksanaan Pembelian Kembali Saham Yang Dikeluarkan Oleh Emiten Atau Perusahaan Publik.

NEXT: Lanjut ke Good News Pasar Modal Lainnya

Ada Restrukturisasi Kredit, Investor Saham Melonjak
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading