Tertinggi Sepanjang Sejarah, Mau Dibawa ke Mana Saham BRIS?

Market - Putra, CNBC Indonesia
15 December 2020 08:05
Cover/ 3 Bank Syariah Merger/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) kembali melesat kencang menembus level tertingginya (all time high/ATH) pada perdagangan Senin kemarin (14/12) setelah melesat kencang selama 2 hari perdagangan dengan kenaikan masing-masing 19,80% dan 21,01%.

Data BEI mencatat, pada Senin kemarin saham BRIS naik 21,01% di level Rp 2.160/saham, dengan transaksi harian mencapai Rp 1,2 triliun.

Melesatnya saham BRIS setelah rencana penggabungan usaha alias merger BRIS, dengan PT Bank BNI Syariah (BNIS) dan PT Bank Syariah Mandiri (BSM) kian dimatangkan.


Bank hasil penggabungan ini nantinya akan bernama PT Bank Syariah Indonesia Tbk dengan kode saham tetap BRIS. Nama ini akan digunakan secara efektif oleh BRIS selaku Bank Yang Menerima Penggabungan (survivor entity).

Ketua Project Management Office Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN Hery Gunardi mengatakan seluruh proses dan tahapan-tahapan merger akan terus dikawal hingga penggabungan ketiga bank syariah BUMN selesai dilakukan.

"Kehadiran Bank Syariah Indonesia akan menjadi tonggak kebangkitan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, entitas baru ini tentu memerlukan identitas yang kuat dan Direksi yang berpengalaman untuk menjalankan operasionalnya," kata Hery yang kini menjadi Dirut Bank Syariah Mandiri, dalam siaran pers, Jumat (11/12/2020).

Melesatnya saham BRIS tentu saja membuat para pelaku pasar bertanya ke mana arah gerak saham BRIS selanjutnya?

Apakah masih murah dan layak dikoleksi ? Well, simak analisis berikut.

Secara fundamental, muncul kabar buruk bagi para investor BRIS. Setelah merger, nilai buku BRIS akan kembali tergerus. Menurut perhitungan Tim Riset CNBC Indonesia nilai buku (book value) BRIS yang telah dilebur berpotensi tergerus ke angka Rp 499/unit.

Angka ini mencerminkan valuasi harga pasar dibandingkan dengan nilai buku (Price to BV/PBV) sebesar 4,32 kali, PBV BRIS tergolong lebih mahal dibandingkan dengan PBV rata-rata sektor perbankan di angka 1,3 kali.

Meskipun demikian nantinya laba per saham BRIS juga berpotensi naik karena BSM dan BNIS yang dilebur lebih profitable dibanding BRIS.

Setelah dilebur, total laba bersih Bank Syariah Indonesia apabila disetahunkan akan berada di angka Rp 2,2 triliun, yang merepresentasikan EPS (earnings per share) sebesar Rp 53,8/unit.

EPS tersebut merepresentasikan valuasi harga pasar dibandingkan dengan laba bersih (PER, price earnings ratio) di angka 40,14 kali, lagi-lagi lebih mahal apabila dibandingkan dengan rata-rata industri perbankan di angka 12,2 kali.

Angka PER tetaplah terlalu mahal meskipun anda mengkategorikan BRIS sebagai growth stock karena bank syariah hasil merger ini nantinya akan menguasai pangsa pasar perbankan syariah baik dari segi aset, pembiayaan, maupun pengumpulan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan menjadi bank ketujuh terbesar di Indonesia.

Catat saja, apabila PER BRIS ingin turun ke area PER rata-rata perbankan, nantinya Bank Syariah Indonesia ini harus mencetak laba sebesar Rp 7,26 triliun.

Sebagai perbandinganm laba bersih PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) sebagai bank kelima terbesar di Indonesia adalah sebesar Rp 1,37 triliun disetahunkan di tahun pandemi ini.

Sedangkan tahun lalu laba bank berkode BNGA ini berada di kisaran Rp 3,6 triliun sehingga bisa dikatakan harga saham BRIS akan kembali wajar apabila mampu menyalip laba bersih BNGA hingga dua kali lipat.

Analisis Teknikal Saham BRIS, 15 Desember 2020/Tri PutraFoto: Analisis Teknikal Saham BRIS, 15 Desember 2020/Tri Putra
Analisis Teknikal Saham BRIS, 15 Desember 2020/Tri Putra

Meskipun sudah tergolong mahal secara fundamental, secara teknikal, pergerakan BRIS dengan menggunakan periode harian (daily) dari indikator Boillinger Band (BB) melalui metode area batas atas (resistance) dan batas bawah (support). Saat ini, BRIS berada di area batas atas maka pergerakan BRIS selanjutnya berpotensi terapresiasi.

Untuk mengubah bias menjadi bullish atau penguatan, perlu melewati level resistance yang berada di area 2.450. Sementara untuk melanjutkan tren bearish atau penurunan perlu melewati level support yang berada di area 1.855.

Indikator Relative Strength Index (RSI) sebagai indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu dan berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20.

Saat ini RSI berada di area 92,yang menunjukkan adanya indikator jenuh beli akan tetapi apabila momentum pergerakan sedang kuat maka RSI bisa bertahan di zona jenuh beli dalam waktu yang lama.

Sementara itu, indikator Moving Average Convergen Divergen (MACD) yang menggunakan pergerakan rata-rata untuk menentukan momentum, dengan indikator MACD di wilayah positif, yang menunjukkan momentum BRIS sedang kuat.

Selain itu muncul pola candlestick Marubozu di saham BRIS yang ditunjukkan oleh garis candlestick full body yang menunjukkan daya beli BRIS pada perdagangan kemarin sangatlah kuat dan berpotensi berlanjut pada perdagangan hari ini.

Secara keseluruhan, melalui pendekatan teknikal dengan indikator BB yang berada di areapivot, maka pergerakan BRIS selanjutnya cenderung bullish atau terapresiasi. Hal ini juga terkonfirmasi dengan munculnya indikator MACD yang berada di zona positif dan munculnya candlestick Marubozu.

BRIS perlu melewati (break) salah satu level resistance atau support, untuk melihat arah pergerakan selanjutnya.

Singkatnya, dalam jangka pendek potensi kenaikan BRIS masih terbuka karena secara teknikal pergerakan BRIS masih menarik meskipun dalam jangka panjang saham BRIS berpotensi terkoreksi karena valuasinya yang tergolong premium terlebih apabila nantinya BRIS gagal melampaui ekspektasi pasar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading