Respons Positif Omnibus Law, Bos Sritex Minta Aturan Turunan

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
14 December 2020 14:30
Direktur Utama PT. Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex/SRIL) Iwan Setiawan Lukminto. (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex, Iwan Setiawan Lukminto, merespons positif disahkannya UU Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) pada 5 Oktober silam yang menghilangkan tumpang tindih aturan bagi industri, termasuk padat karya (labour intensive).

Hanya saja, pihaknya juga meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan industri yang kaya akan padat karya seperti sektor tekstil dan produk tekstil (TPT).

"Aturan ini [UU Omnibus Law] bisa sustain [berkelanjutan, dari regulasi, sistem yang ditawarkan," kata Iwan dalam Webinar bertajuk "Jurus Kemenko Perekonomian dalam Meningkatkan Bisnis dan Investasi Indonesia Melalui UU Cipta Kerja" yang digelar CNBC Indonesia, Senin (14/12/2020).


Pembicara kunci dalam acara ini yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Sementara itu, pembicara lain yang hadir adalah Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Head of Indonesia Research & Strategy JPMorgan Sekuritas Indonesia Henry Wibowo, dan Iwan Setiawan Lukminto.

"Yang jadi tambahan kami, adanya social risk, kita ini adalah labour intensive, jadi beri suatu payung di sana [aturan turunan], yang misalnya investasi Rp 1 triliun di permesinan," katanya.

"Semoga Ciptaker punya aturan yang intinya bagaimana cost daripada itu bisa dipermurah, diberi jalan keluar, misalnya permodalan yang lebih murah. Mereka yang menggendong risiko lebih banyak bila ada PHK, bila ada pandemi, ini tidak mudah bagi yang labour intensive. Ini hal yang perlu dipikirkan kemudian," tegasnya.

Dia menjelaskan, di Sritex, dari sisi labour intensive, perseroan didukung 50.000 karyawan, dan tidak ada yang di PHK.

"Kami mengupayakan dengan pemerintah memberi contoh tidak adanya penularan. Cost kesehatan ini besar, pemerintah apple to apple-nya beda, di antara modal dan kebutuhan sosial," jelas putra pendiri Sritex ini, almarhum HM Lukminto.

"Di Indonesia, tetap dibutuhkan lapangan pekerjaan yang demikian, sehingga bisa menambah kepastian bahwa di Indonesia yang seperti ini dilindungi, pengusaha bisa lebih happy melihat itu, aturannya makin jelas. Kita diprioritaskan dalam investasi," katanya.

Dia mengatakan, UU Omnibus Law ke depan harus adil dalam hal implementasi karena tak hanya untuk sektor misalnya pabrik baterai, UMKM, dan lainnya.

"Bagaimana Ciptaker penerapannya lebih adil lagi, jangan sampai, penerapan untuk itu dieksekusi, di masa depan [kita malah] set back [mundur]. Kita harus punya kehati-hatian. Itu harapan kami Omnibus bagus sekali, secara struktur harus adil."

Dia menegaskan aturan UU Omnibus Law ini luar biasa, menjadi terobosan dan memang menjadi harapan dari pelaku pasar sejak lama karena adanya aturan yang tumpah tindih.

"Omnibus jawabannya, pengusaha mengharapkan, sebetulnya gampang, intinya hitungannya harus jelas, gambarannya harus jelas, clarity harus jelas, kalau bisa keberpihakan ke dalam negeri harus ada."

"Kita juga ingin kebijakan ini terus mengikuti zaman, bahwa apa yang sekarang musimnya apa, kebijakan atau peraturan itu bisa fleksibel atau adjustable, ini harapan dari pengusaha."

"Kita sangat setuju sesuai UU Ciptaker, selain itu kita bersama menjaga aturan bilateral dan multilateral, ini juga banyak hubungannya dicocokkan dengan WTO, apa yang kita inginkan, apa yang dunia inginkan. Ini yang harus kita jaga, intinya kita punya kebersamaan, goal-nya Indonesia bisa lebih maju lagi."


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading