Medco Fokus Kembangkan Bisnis Anak Usaha, IPO Cuma Wacana?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
08 December 2020 13:37
Medco Power

Jakarta, CNBC Indonesia - Anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang bergerak di bidang pembangkit listrik energi terbarukan, PT Medco Power Indonesia tengah disiapkan untuk menjadi perusahaan terbuka dan tercatat sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Presiden Direktur Medco Energi Hilmi Panigoro mengatakan rencana penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) ini masih menunggu Medco Power mencapai size tertentu.

"Medco Power akan bisa disiapkan untuk IPO, kalau sekarang masih kecil, tapi kalau sudah ada size Medco Power bisa jadi IPO," kata Hilmi dalam paparannya secara virtual, Selasa (8/12/2020).


Medco Energi perusahaan perusahaan yang berfokus pada pembangunan pembangkit listrik dari sumber energi terbarukan serta jasa operasi dan pemeliharaan (O&M). Perusahaan ini menargetkan untuk memiliki kapasitas hingga 5.000 megawatt dari portofolio yang dimilikinya, sedangkan hingga akhir tahun total kapasitas yang dimiliki telah mencapai 3.800 megawatt.

Hilmi menargetkan Medco Energi hanya akan berfokus pada pengembangan energi terbarukan ini dan perlahan akan mengurangi porsi bisnis minyak buminya.

"Akhrinya akan membutuhkan listrik, harus make sure bauran renewable akan lebih besar. ... Fokus di clean energy, nanti tinggal gas aja. Selainnya geothermal hydro, solar, lainnya kita kembangkan," jelas dia.

Saat ini terdapat enam pengembangan clean energy milik Medco antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Riau 275 megawatt yang ditargetkan akan melakukan Commercial Operation Date (COD) pada kuartal kedua 2021.

Kemudian terdapat dua pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yakni Sumbawa PV 26 megawatt yang ditargetkan bisa melakukan COD pada kuartal ketiga tahun depan. Kemudian ada Bali PV 2x25 megawatt yang akan mulai melakukan konstruksi pada kuartal III-2021 dan COD pada kuartal terakhir 2022.

Lalu pengembangan LNG menjadi listrik 150-300 megawatt yang akan dikembangkan.

Dua lainnya adalah pembangkit listrik tenaga geothermal di Ijen dan Sarulla yang masing-masing bertegangan 2x55 megawatt dan 330 megawatt. PLTP Ijen ini ditargetkan bisa dilakukan COD pada 2026 nanti.

Direktur Utama Medco Power Eka Satria dalam paparannya menyebutkan terdapat beberapa potensi pengembangan energi terbarukan lainnya yang akan dilakukan perusahaan. Salah satunya adalah geothermal Bonjol dengan potensi 60 megawatt electrical (MWe), LNG to power di wilayah Indonesia bagian tengah dan PLTB di Sumbawa.

Selain itu, target perusahaan juga untuk mengembangkan ekosistem electronic vehicle (EV) di Jakarta, Batam dan Bali.

"Bulan Januari kita akan launch EV ecosystem kita yang pertama dan juga charging station di gedung ini," kata dia di kesempatan yang sama.

IPO Amman Mineral

Anak usaha perusahaan yang sudah sejak lama disebut-sebut bakal lebih dahulu melantai di BEI adalah PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang saat ini masih dalam tahap pengembangan fase tujuh dan akan mencapai peak produksinya pada 2023 dan 2024 mendatang.

Hilmi menyebutkan, persiapan perusahaan tambang emas dan tembaga ini terus dilakukan namun rencana IPO tersebut masih menunggu kondisi market yang lebih baik dari saat ini.

"Tapi timing IPO tergantung kondisi market jadi kali ini Amman masih belum putuskan kapan ipo akan dilaksanakan, tapi persiapan kita lakukan sebaik mungkin. Tunggu situasi market pas nanti itu baru kita putuskan kapan," jelasnya.

Sebelumnya, pendiri Medco Energi Arifin Panigoro memastikan AMNT bakal melantai di pasar modal pada 2021 mendatang.

"Tahun depan [2021] lebih pasti," jawabnya saat ditanya soal kepastian bakal melantainya perusahaan tambang emas dan tembaga yang dulu dikenal sebagai Newmont Nusa Tenggara tersebut, Kamis (10/10/2019).

Kala itu dia mengungkapkan bahwa opsi yang dimiliki Amman tak cuma IPO, tetapi juga backdoor listing.

"Tahu-tahu kita merger dengan perusahaan siapa gitu atau Medco sendiri yang masuk, kan kami sudah listed [tercatat di BEI] juga," ungkapnya.

Backdoor listing adalah cara perusahaan non terbuka untuk masuk ke bursa dengan mengakuisisi perusahaan terbuka.

Perlu diketahui, Amman Mineral mengoperasikan tambang Batu Hijau seluas 25.000 hektar, konsesi tembaga dan emas yang terletak di Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tambang Batu Hijau adalah tambang tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia.

Perusahaan memulai kegiatan produksi dan operasi di tahun 2000 dan telah memproduksi sekitar 3,6 juta ton tembaga serta 8 juta ounces emas, dengan masa tambang dan diikuti dengan pengolahan stockpile jangka panjang.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading