Bos Inalum Sebut Laba Freeport Ditargetkan Rp 12,3 T di 2021

Market - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
07 December 2020 16:27
Suasana penambangan Grasberg Freeport. (CNBC Indonesia/Suhendra)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia (PTFI) diproyeksikan akan mencetak laba sebesar US$ 870 juta atau sekitar Rp 12,27 triliun (asumsi kurs Rp 14.100 per US$) pada 2021.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Holding BUMN Pertambangan MIND ID Orias Petrus Moedak dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi VII DPR RI, Senin (07/12/2020).


Orias mengatakan, perkiraan pencapaian laba bersih PTFI pada tahun depan tersebut meningkat dari perkiraan capaian laba pada tahun ini dan 2019 lalu. Dia menyebutkan, PTFI hanya membukukan laba sebesar US$ 166 juta (Rp 2,3 triliun) pada 2019 dan perkiraan US$ 366 juta (Rp 5,16 triliun) pada 2020 ini.

Rendahnya pencapaian laba bersih pada dua tahun terakhir ini menurutnya karena adanya transisi dari penambangan terbuka (open pit) ke tambang bawah tanah (underground mining).

"Sehingga, disepakati tidak ada dividen selama dua tahun ini. Di tahun 2021 ada net income (laba) US$ 870 juta, 2022 US$ 1,5 miliar," ungkapnya kepada Komisi VII DPR RI, Senin (07/12/2020).

Dengan kondisi capaian kinerja seperti itu, maka menurutnya mulai tahun depan MIND ID diperkirakan bakal terima dividen sebesar US$ 200 juta, dan pada 2022 akan naik menjadi US$ 500 juta.

Lalu, setelah 2022, laba PTFI menurutnya diperkirakan meningkat menjadi sebesar US$ 2 miliar per tahun. Dengan demikian, MIND ID diperkirakan bakal peroleh dividen sekitar US$ 1 miliar per tahunnya.

"Tahun 2023 dan seterusnya kami asumsikan porsi dividen yang akan didapatkan US$ 1 miliar tiap tahun. Atas dasar ini, kami datang ke investor penerbitan obligasi," jelasnya.

Seperti diketahui, MIND ID menerbitkan obligasi sebesar US$ 4 miliar pada November 2018 untuk membeli divestasi saham Freeport. Dari jumlah obligasi tersebut, US$ 3,8 miliar untuk membayar divestasi saham Freeport dan US$ 150 juta digunakan untuk transaksi dan kontribusi belanja modal dalam pengembangan tambang bawah tanah PTFI pada 2019-2020.

Adapun tingkat kupon dan jatuh tempo obligasi tersebut berbeda-beda yakni:
- US$ 1 miliar dengan kupon 5,23% dan jatuh tempo pada 2021.
- US$ 1,25 miliar dengan kupon 5,71% dan jatuh tempo pada 2023.
- US$ 1 miliar dengan kupon 6,53% dan jatuh tempo pada 2028.
- US$ 750 juta dengan kupon 6,75% dan jatuh tempo pada 2048.

Untuk membayar obligasi yang jatuh tempo pada 2021 dan 2023, MIND ID pun telah menerbitkan obligasi kedua sebesar US$ 2,5 miliar pada Mei 2020.

"Dengan (dividen) US$ 1 miliar tiap tahun, maka 2025 atau awal 2026, US$ 4 miliar bisa tertutupi," ujarnya.

Menurutnya, obligasi dipilih perseroan karena dipakai untuk pembiayaan jangka panjang dan lebih stabil, dibandingkan sindikasi perbankan dengan tenor tidak selama dan tidak sepanjang obligasi.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading