Tambang Freeport Beroperasi Full, Produksi Tembaga RI Naik 4x

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
12 November 2020 12:27
Indonesia lewat PT Indonesia Alumunium (Inalum) menguasai 51% saham PT Freeport Indonesia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, melakukan kunjungan kerja ke tambang Freeport di Timika, Papua pada 2-3 Mei 2019.

Dalam acara, Jonan mengunjungi tambang emas legendaris milik Freeport Indonesia, yaitu Grasberg, yang lokasinya 4.285 meter di atas permukaan laut.

Tambang Grasberg ini akan habis kandungan mineralnya dan berhenti beroperasi pada pertengahan 2019 ini. Sebagai gantinya, produksi meas, perak, dan tembaga Freeport akan mengandalkan tambang bawah tanah yang lokasinya di bawah Grasberg.

Dalam kunjungan tersebut, Jonan didampingi Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas, Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin, serta sejumlah pejabat Kementerian ESDM.

Perjalanan menuju Grasberg dilakukan menggunakan bus khusus, dan sempat disambung dengan menggunakan kereta gantung atau disebut tram yang mengantarkan hingga ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut, dan disambung dengan bus lagi hingga ke puncak Grasberg.

Cuaca gerimis serta oksigen yang tipis menyambut kedatangan Jonan dan rombongan di lokasi puncak Grasberg.

Dalam kunjungannya Jonan mengatakan, tantangan saat ini adalah membuat operasional Freeport terus berjalan dengan baik, dan produksi, keselamatan kerja, serta lingkungan dapat terjaga dengan baik.

Jonan meminta agar tidak ada hambatan dalam pengelolaan tambang Freeport pasca pengambilalihan 51% saham oleh Inalum.

Jonan juga meminta agar ke depan peranan Freeport terhadap masyarakat Papua makin besar, lewat pembangunan sarana dan prasarana seperti sekolah serta rumah sakit atau puskesmas. (CNBC Indonesia/Wahyu Daniel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan produksi bijih tembaga naik hingga tiga kali lipat pada 2024 menjadi 9,81 juta ton dari tahun ini yang diperkirakan hanya sebesar 2,09 juta ton.

Perkiraan produksi bijih tembaga tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.16 tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian ESDM tahun 2020-2024 yang ditetapkan Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 18 September 2020 dan berlaku sejak diundangkan pada 25 September 2020.

Produksi bijih tembaga ini diperkirakan mulai menunjukkan adanya peningkatan pada 2022 menjadi 5,01 juta ton dari 2021 sebesar 2,10 juta ton. Lalu naik lagi menjadi 6,52 juta ton pada 2023 dan pada 2024 bahkan diperkirakan mencapai 9,81 juta ton.


Meningkatnya produksi bijih tersebut juga meningkatkan jumlah bijih yang diolah di dalam negeri. Pada 2024 diperkirakan melonjak menjadi 8,30 juta ton dari tahun ini sekitar 1,67 juta ton. Tahun 2021 juga relatif sama dengan tahun ini yakni 1,67 juta ton. Lalu pada 2022 ada peningkatan menjadi 4,20 juta ton, lalu naik lagi menjadi 5,40 juta ton pada 2023, dan 8,30 juta ton pada 2023.

Meski ada lonjakan jumlah bijih tembaga yang diproduksi, namun hal serupa tidak tampak pada produksi konsentrat tembaga. Meski ada kenaikan produksi konsentrat tembaga pada 2024, namun tidak terlalu signifikan.

Pada 2024 produksi konsentrat diperkirakan naik menjadi 3,52 juta ton dari tahun ini yang diperkirakan sebesar 2,26 juta ton. Pada 2021 hanya naik tipis menjadi 2,72 juta ton, lalu pada 2022 mulai terlihat ada kenaikan cukup besar menjadi 3,58 juta ton, dan pada 2023 menjadi 3,63 juta ton. Namun pada 2024 diperkirakan turun lagi menjadi 3,52 juta ton.

Walaupun produksi konsentrat tembaga di dalam negeri terus meningkat, namun konsentrat yang diolah di dalam negeri terlihat tidak ada tanda-tanda peningkatan, yakni hanya stagnan sebesar 1 juta ton per tahun. Artinya, pengolahan konsentrat di dalam negeri masih sekitar 30%-40% dari konsentrat yang diproduksi per tahun.

Peningkatan produksi bijih dan konsentrat tembaga tersebut sejalan dengan rencana tambang bawah tanah yang dikelola PT Freeport Indonesia. Tambang bawah tanah Freeport Indonesia itu direncanakan bakal beroperasi penuh pada 2022 dengan memproduksi 1,6 miliar pon tembaga. Tahun ini produksi tembaga Freeport diperkirakan hanya 800 juta pon karena tambang bawah tanah baru beroperasi 50%-60% dari kapasitas, lalu pada 2021 akan naik menjadi 75% dari kapasitas atau memproduksi sekitar 1,4 miliar pon tembaga.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Freeport Didekati Tsingshan Buat Bangun Smelter di Halmahera


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading