Ini Rincian Rencana BUMI Cs Garap Proyek Hilirisasi Batu Bara

Market - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
23 November 2020 17:47
Tambang Kaltim Prima Coal

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah terus mendorong peningkatan nilai tambah batu bara melalui hilirisasi, sehingga tidak hanya gali dan menjual saja.

Salah satu perusahaan batu bara yang berencana mengembangkan hilirisasi batu bara yaitu PT Arutmin Indonesia, anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dengan merubah batu bara menjadi methanol. Rencana ini merupakan bagian dari syarat perpanjangan operasional PT Arutmin Indonesia menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dari sebelumnya Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B).

Arutmin telah menerima perpanjangan operasional menjadi IUPK pada 2 November lalu yang berlaku selama 10 tahun ke depan.


Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan proyek hilirisasi batu bara Arutmin ini diperkirakan akan mulai beroperasi pada 2025 mendatang. Adapun lokasi proyek hilirisasi dari Arutmin berada di IBT Terminal, Pulau Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Bahan baku batu bara yang bakal diserap sebanyak 6 juta ton per tahun dengan kadar GAR 3.700 kcal/ kg. Nantinya akan memproduksi methanol sebanyak 2,8 juta ton per tahun.

"Status dari proyek ini saat ini adalah finalisasi kajian atau Pra-FS (feasibility study)," ujarnya saat Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, Senin (23/11/2020).

Proyek hilirisasi batu bara berupa produk methanol juga akan dikerjakan oleh perusahaan di bawah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yakni PT KPC. Proyek coal to methanol ini rencananya akan dikerjakan KPC bersama dengan Ithaca Group dan Air Product.

Proyek yang ditargetkan akan beroperasi pada 2024 ini berlokasi di Bengalon, Kalimantan Timur. Adapun kebutuhan batu baranya diperkirakan sekitar 5-6.5 juta ton per tahun dengan kadar GAR 4.200 kcal/ kg. Proyek ini akan memproduksi 1.8 juta ton per tahun methanol. Status saat ini yaitu sedang dilakukan finalisasi FS dan skema bisnis.

Proyek methanol lainnya direncanakan akan dikerjakan oleh PT Adaro Indonesia, anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Proyek ini ditargetkan beroperasi pada 2027 mendatang, berlokasi di Kotabaru, Kalimantan Selatan.

"Feedstock (kebutuhan batu bara) sekitar 1,3 juta ton per tahun untuk memproduksi 660 ribu ton per tahun methanol. Saat ini statusnya finalisasi kajian (pra FS)," ungkapnya.

Selain mengubah batu bara menjadi methanol, proyek lain yang tengah dikerjakan yaitu proyek gasifikasi menjadi Dimethyl Ether (DME) yang dikerjakan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bersama PT Pertamina (Persero) dan Air Product. Proyek DME ini bisa menjadi substitusi liquefied petroleum gas (LPG), sehingga bisa mengurangi impor LPG nasional.

Proyek gasifikasi ini berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Melalui proyek ini, bahan baku batu bara diperkirakan bakal terserap sebanyak 6,5 juta ton per tahun dengan kandungan GAR 3.700 kcal per kg dan akan menghasilkan produk DME sebesar 1,4 juta ton per tahun.

"Status saat ini sedang finalisasi kajian dan skema subtitusi DME untuk substitusi LPG dan negosiasi skema bisnis proyek," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading