Lamban, RI Baru Garap 2 dari 7 Jenis Hilirisasi Batu Bara

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
19 November 2020 15:17
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Bongkar Muat Batu bara di Terminal Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia semakin gencar menggerakkan hilirisasi batu bara, sehingga nantinya batu bara bernilai tambah sebelum dijual. Bahkan, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan agar ke depannya tak ada lagi ekspor batu bara mentah dan perusahaan tambang pun harus mengembangkan industri turunan batu bara.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, setidaknya ada tujuh jenis proyek hilirisasi batu bara yang bisa dikerjakan. Namun dari tujuh jenis tersebut, Indonesia baru mengembangkan dua jenis hilirisasi batu bara, yakni pembuatan briket batu bara dan peningkatan mutu batu bara (coal upgrading).


Sementara lima jenis lainnya hingga saat ini belum juga dikembangkan. Kelima jenis tersebut antara lain gasifikasi batu bara di permukaan, gasifikasi batu bara di bawah tanah (Underground Coal Gasification/ UCG), pencairan batu bara (coal liquefaction), pembuatan kokas, dan coal slurry/ coal water mixture (minyak bakar).

Berikut perkembangan proyek hilirisasi batu bara Indonesia saat ini:

1. Pembuatan briket batu bara
Ada dua perusahaan yang mengembangkan proyek ini yaitu PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Thriveni. Adapun besaran investasi untuk proyek briket ini mencapai sekitar Rp 200 miliar (US$ 15 juta). Saat ini sudah komersial dikembangkan.

2. Peningkatan mutu batu bara (coal upgrading)
Dikerjakan oleh PT ZJG Resources Technology dengan perkiraan investasi US$ 80-170 juta atau sekitar Rp 1,13 triliun-Rp 2,4 triliun (asumsi kurs Rp 14.100 per US$). Ini sudah komersial dikembangkan.

3. Gasifikasi batu bara
Ada rencana dikembangkan oleh:
- PT Bukit Asam, produk: DME, methanol.
Pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) Generasi 1 menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK):
- KPC, produk: methanol
- Arutmin Indonesia, produk Syngas (finalisasi kajian)
- Adaro Indonesia, methanol (masih kajian awal)
- Berau Coal, produk DME/ Hidrogen (masih kajian awal).

Adapun nilai investasi per proyek diperkirakan mencapai US$ 1,5-3 miliar.
Saat ini belum komersial.

4. Underground Coal Gasification (UCG)
Direncanakan dikembangkan oleh:
- PT Kideco Jaya Agung di Kalimantan Timur (Pilot plant)
- PT Indominco di Kalimantan Timur
- PT Medco Energi Mining International (MEMI) dan Phoenix Energi Ltd di Kalimantan Utara.

Adapun proyeksi investasi sekitar US$ 600-800 juta, 30%-40% lebih rendah dibandingkan gasifikasi permukaan. Namun hingga kini belum komersial.

5. Pencairan Batu Bara (coal liquefaction)
Hingga kini belum ada yang mengajukan proyek ini ke pemerintah. Adapun perkiraan investasi sekitar US$ 2-4 miliar.

6. Pembuatan Kokas
- Semi cooking coal plant project direncanakan dikembangkan PT Megah Energi Khatulistiwa, produk: Semi Coke, Coal tar.
Perkiraan investasi sekitar US$ 200-400 juta. Namun hingga kini belum secara utuh komersial.

7. Coal slurry/ coal water mixture
Belum ada yang mengusulkan proyek ini ke pemerintah. Perkiraan investasi sekitar US$ 200 juta.

Muhammad Wafid, Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batu Bara Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM mengatakan terdapat sejumlah tantangan untuk melaksanakan proyek hilirisasi batu bara ini. Untuk gasifikasi misalnya, dia menyebutkan tantangan untuk proyek ini antara lain dibutuhkan investasi besar dan harga DME harus mampu berkompetisi dengan LPG subsidi.

"Tapi ada usulan kebijakan untuk pemberian insentif dan pemberian subsidi untuk DME jika ditujukan bagi kebutuhan rumah tangga untuk menggantikan LPG," ujarnya dalam webinar tentang batu bara, kemarin, Rabu (18/11/2020).

Sementara untuk produk syngas menurutnya ada tantangan seperti citra lingkungan negatif, teknologi dalam negeri belum terbukti. Namun demikian, ada usulan kebijakan berupa berbagi risiko antara BUMN dan swasta dan perlunya jaminan pemerintah terkait kelanjutan investasi, khususnya untuk UCG.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading