Makin Cerah! BTN Targetkan Kredit Tumbuh 5% di 2021

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
20 November 2020 18:19
Direktur Finance, Planning, & Treasury Bank BTN, Nixon L.P. Napitupulu Foto: Direktur Finance, Planning, & Treasury Bank BTN, Nixon L.P. Napitupulu

Jakarta, CNBC Indonesia- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menargetkan pertumbuhan kredit pada 2021 bisa mencapai sekitar 5% yang didorong dari penyaluran KPR. Selain KPR, perusahaan juga akan meningkatkan penyaluran kredit korporasi yang berhubungan dengan infrastruktur perumahan.

"Misalnya kami masuk pada sindikasi PLN, karena hubungannya dengan perumahan untuk sambungannya rumahnya. Kami juga akan mengoptimalkan likuiditas yang lebih baik dengan menempatkannya di SBN," kata Direktur Finance, Planning, & Treasury Bank BTN, Nixon L.P. Napitupulu dalam CNBC Indonesia Award : The Most Inspiring Banks, Jumat (20/11/2020).

Dia pun menyatakan saat ini kondisi perusahaan memiliki likuiditas yang sehat, setelah tahun-tahun sebelumnya likuiditas Bank BTN terkenal tipis. Nixon menambahkan LDR BTN saat ini diposisi 88%, sehingga memiliki keleluasaan dalam penyaluran kredit.


"Beruntung lagi ada shifting funding ke bank besar dan BUMN, kami memiliki likuiditas jauh di atas rata-rata. Jadi rasanya likuiditas kami kuat hari ini, kami juga berusaha dorong ke developer untuk menyerap kredit yang lebih dari biasanya. Kami menurunkan pricing, kami dalam kondisi yang baik jika bicara likuiditas," jelas Nixon.

Dia juga memproyeksi bahwa laba bersih untuk keseluruhan 2020 bisa tumbuh di atas 30% dibandingkan setahun sebelumnya. Nixon menjelaskan bahwa kondisi BTN berbeda dengan bank lain pada tahun ini. Pasalnya, BTN mencatatkan peningkatan laba, sementara mayoritas bank lain mencatatkan penurunan laba.

"(Tahun depan) Tumbuh di atas 30%," ujarnya.

Kuncinya, tutur Nixon, karena BTN sudah mempersiapkan pencadangan yang cukup besar sesuai PSAK 71. Hal ini berdampak laba BTN sempat tertekan pada 2019 lalu

"Walau situasinya berat, walaupun bisnis makro berat kami bisa mengalami pertumbuhan laba. Persiapan sudah dilakukan akhir tahun lalu," ujar Nixon.

Tahun ini, di tengah pandemi pun pembelian rumah masih tumbuh di tengah pandemi untuk rumah KPR subsidi, dengan harga sekitar Rp 160 juta yang masih tumbuh 5-6%. Permintaan juga masih tumbuh untuk rumah non subsidi dengan harga sekitar Rp 300 juta.

Sementara yang permintaannya terhenti adalah KPR rumah dengan harga di atas Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar. Nixon menilai segmen inilah yang banyak melakukan penundaan pembelian karena memiliki prioritas lain yang lebih mendesak dibandingkan investasi dengan pembelian rumah.

"Rumah adalah kebutuhan pokok, sudah pasti orang akan tetap beli rumah. Yang mendorong pembelian rumah adalah pernikahan dan pasangan baru. Kegiatan bekerja, sekolah, membuat masyarakat semakin menyadari akan kebutuhan rumah," kata Nixon.

Dia mengakui di awal pandemi dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sempat ada penurunan permintaan pembelian rumah, terutama untuk investasi. Namun, masih ada 7 juta keluarga yang belum memiliki rumah sehingga dia optimistis permintaan masih akan meningkat. Apalagi, pemerintah telah membuat berbagai program untuk segmen ini sehingga tetap ada pembelian rumah dari KPR subsidi.

"Walaupun pandemi orang tetap akan membeli rumah terutama untuk ditempati bagi pasangan baru, jadi yang mau beli rumah tetap ada. Tapi yang buat investasi itu yang menurun. Kami memang dorongnya kesana, akad-akad majority adalah MBR," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading