Masih Lanjut Reli Bung! Harga Batu Bara Kini Tembus US$ 64

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
20 November 2020 10:48
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sudah sebulan lebih harga kontrak batu bara mencatatkan reli dan masih belum terhenti. Memang harga kontrak batu bara belum pulih ke level pra-pandemi. Namun setidaknya harga batu legam tersebut masih kokoh di level tertinggi dalam tujuh bulan.

Pada perdagangan Kamis (19/11/2020), harga kontrak futures batu bara ICE Newcastle naik 1,6% dan tembus level US$ 64,05/ton. Secara month to date (mtd) harga kontrak batu bara termal ini telah naik 8,1%.


Di tengah terus meningkatnya kasus infeksi Covid-19 yang menjadi ancaman utama turunnya harga komoditas, terselip berita gembira seputar perkembangan vaksin Covid-19. 

Dalam dua pekan terakhir beberapa pengembang vaksin melaporkan analisa awal hasil uji klinis tahap akhir. Pfizer, BioNTech dan Moderna menjadi tiga pengembang yang membawa kabar gembira tersebut.

Kandidat vaksin Covid-19 yang mereka kembangkan diklaim memiliki tingkat keampuhan lebih dari 92%. Hal ini mampu membuat harga aset-aset keuangan dan komoditas termasuk batu bara melompat lebih tinggi. 

Ekspor batu bara Australia ke China memang drop tetapi diimbangi oleh peningkatan impor dari India, Jepang dan Korea Selatan yang merupakan konsumen energi fosil terbesar di kawasan Asia setelah China. 

Ekspor ke India dalam pada bulan September tahun ini tercatat sebesar 5,97 juta ton. Namun, impor batu bara India dari Australia sebagian besar merupakan batu bara kokas dan oleh karena itu hanya berdampak kecil pada harga batu bara termal.

Di luar China, pelanggan batu bara termal utama Australia adalah Jepang dan Korea Selatan, yang memberikan gambaran yang lebih positif bagi penambang batu bara asal Negeri Kanguru.

Ekspor Australia ke Jepang sedikit meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Ekspor batu bara tercatat mencapai 8,3 juta ton di bulan Oktober dan 8,45 juta di bulan September. Ekspor pada dua bulan tersebut menjadi yang terbaik sejak Maret.

Pengiriman ke Korea Selatan mencapai 4,95 juta ton pada Oktober atau mengalami kenaikan dari 4,24 juta pada September dan menjadi ekspor Australia terkuat sejak Desember tahun lalu.

Di sisi lain ketatnya pasokan batu bara China telah membuat harga energi primer ini melambung melampaui batas atas yang ditetapkan pemerintah. China mematok batas atas harga batu bara termalnya di RMB 570/ton atau setara dengan 86,67/ton.

Namun pada pekan lalu harga batu bara termal Qinhuangdao 5.500 Kcal/Kg menyentuh level RMB 618/ton atau setara dengan US$ 94,15/ton. Tingginya harga batu bara domestik membuat pasar dipenuhi spekulasi bahwa China akan melonggarkan kebijakan kuota impornya apalagi jelang tahun baru. 

Pucuk di cinta ulam pun tiba, China dikabarkan memberikan beberapaprovinsinya kuota baru tambahan untuk tahun ini.Sxcoal melaporkan Provinsi Guangdong telah memperoleh 2-3 juta ton kuota baru, menyusul seruan kepada pemerintah pusat untuk kuota sebanyak 28,61 juta ton.

Fujian, Jiangxi dan Guangxi, yang telah menghabiskan kuota tahunan mereka jauh sebelumnya, diketahui telah memperoleh masing-masing 1 Jt, sementara Zhejiang mendapatkan 2 Jt dan tetangganya Jiangsu 2-3 Jt.

Pelonggaran kuota impor ini juga membuat harga batu bara termal Indonesia mengalami penguatan. Berdasarkan Kementerian ESDM, harga batu bara acuan (HBA) bulan November dipatok di US$ 55,71/ton dari bulan sebelumnya di US$ 51/ton.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading