Sudah Dua Pekan Tertekan, Harga Batu Bara Mulai Rebound

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
25 February 2021 08:35
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia -  Harga batu bara tertekan hebat dalam dua minggu terakhir. Dalam periode tersebut harga kontrak berjangka batu bara termal ICE Newcastle anjlok 11%. Namun harga kontrak si batu hitam terlihat mulai mengalami rebound secara teknikal. 

Pada perdagangan kemarin, Rabu (24/2/2021) harga kontrak yang aktif diperjualbelikan di bursa berjangka tersebut menguat nyaris 3% dan ditutup di level US$ 79/ton. Sehari sebelumnya harga batu bara juga menguat.


Tren penurunan harga batu bara Newcastle mengikuti harga batu bara termal China Qinhuangdao. Setelah meroket tajam harga batu bara lokal Negeri Panda akhirnya turun signifikan. Namun masih berada di atas batas tertinggi yang ditetapkan pemerintah yaitu RMB 570/ton. 

Jelang periode berakhirnya musim dingin, harga batu bara biasanya melandai. Apalagi China juga sudah berupaya untuk mendongkrak produksi serta merelaksasi kebijakan impornya guna menanggulangi ketatnya pasokan saat permintaan sedang mencapai puncaknya di musim dingin. 

Harga gas alam cair (LNG) yang juga menjadi substitusi batu bara juga sudah turun. Harga LNG Asia kini sudah di US$ 6,4/mmBtu. Sebelumnya harga sembat melesat signifikan dan hampir menyentuh US$ 30/mmBtu.

Harga LNG yang tinggi akan cenderung mendukung konsumen sumber energi primer terutama untuk pembangkit listrik beralih ke batu bara. Hal ini tentu berakibat pada naiknya permintaan dan terdongkraknya harga.

Kenaikan harga batu bara yang signifikan juga membuat para produsen kemungkinan akan meningkatkan produksinya setelah dua tahun terakhir harga si batu hitam cenderung tertekan. 

Di Indonesia misalnya, harga batu bara acuan (HBA) untuk bulan Februari ditetapkan US$ 87,79/ton oleh Kementerian ESDM. Harganya naik 15% (mom) dibanding bulan sebelumnya yang hanya US$ 75,84/ton. 

Realisasi produksi batu bara tahun lalu mencapai 557,4 juta ton. Masih tinggi meskipun ada penurunan harga. Target produksi tahun 2021 dipatok sebesar 550 juta ton. Namun karena ada kenaikan harga ada peluang realisasi produksinya lebih tinggi dari tahun 2020.

Kenaikan output dari para produsen akan turut membuat titik keseimbangan tercapai. Namun prospek perekonomian yang lebih baik terutama ditopang oleh ekspansi ekonomi China, rata-rata harga batu bara tahun ini diramal lebih tinggi dari tahun 2020.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading