Sempat Tembus RM 3.400, Harga CPO Selow Dulu

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
13 November 2020 12:23
Pekerja mengangkut hasil panen kelapa Sawit di kebun Cimulang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/3). Badan Pusat Statistik BPS  mengumumkan neraca Perdagangan (Ekspor-impor) Pada bulan Februari, nilai ekspor mencapai US$ 12,53 miliar, atau turun 11,33% dari tahun sebelumnya (YoY). Nilai ekspor minyak sawit sepanjang Januari-Februari 2019 hanya mencapai US$ 2,94 miliar, yang artinya turun 15,06% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada perdagangan kemarin (12/11/2020) harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka Malaysia ditutup nyaris menyentuh level RM 3.400/ton. Hari ini Jumat (13/11/2020) harga kontrak CPO berbalik arah.

Pada 10.25 WIB harga CPO kontrak pengiriman Januari 2021 di Bursa Malaysia Derivatif Exchange turun 50 ringgit atau terkoreksi 1,47% ke RM 3.341/ton. Koreksi harga CPO menyusul koreksi harga kontrak minyak nabati lain di Bursa Dalian yang turun lebih dari 0,2%.

Harga minyak mentah yang juga longsor akibat semakin merebaknya pandemi Covid-19 turut menjadi sentimen negatif bagi harga CPO yang juga menjadi bahan baku biodiesel sebagai bahan bakar substitusi minyak. 


Kenaikan harga CPO belakangan ditengarai oleh adanya fenomena perubahan iklim La Nina yang dicirikan dengan intensitas hujan yang lebih tinggi. Hujan lebat yang melanda Indonesia dan Malaysia sampai akhir tahun berpotensi menyebabkan bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor.

Akibat La Nina pasokan minyak sawit bisa terkena disrupsi dan membuat harganya melambung. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, La Nina pernah terjadi di 2011 dan 2016. Pada dua periode tersebut, La Nina menyebabkan harga CPO terbang tinggi. 

Faktor produksi yang rendah juga turut mengerek naik harga minyak nabati unggulan RI dan Negeri Jiran itu. 

Adapun produksi CPO Indonesia selama Januari-September 2020 mencapai 34,4 juta ton, atau turun sekitar 4,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan produksi sawit Indonesia diakibatkan oleh kekeringan panjang yang terjadi tahun lalu.

Harga CPO yang rendah juga membuat penggunaan pupuk menjadi lebih rendah dan berakibat pada penurunan produksi.

Dalam siaran pers Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada Kamis (12/11/2020), nilai ekspor produk sawit selama Januari-September 2020 mencapai US$ 15,49 miliar, naik 7,19% dari US$ 14,46 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Ekspor CPO hingga September mencapai 5,35 juta ton atau sekitar 15,5% dari produksi CPO. Pada Juli, ekspor CPO sebesar 656.000 ton, lalu pada Agustus turun menjadi 510.000 ton, dan pada September naik tipis menjadi 518.000 ton.

Jumlah ekspor tertinggi selama periode sembilan bulan tahun ini terjadi pada Januari 2020 yang mencapai 699.000 ton dan terendah pada Agustus 2020. Peningkatan ekspor ditopang oleh kenaikan permintaan dari China, India dan negara lain seperti Rusia dan Brazil.

Dengan harga CPO yang saat ini bertengger kokoh di level tertingginya dalam delapan tahun, maka koreksi harga adalah hal yang sehat dan wajar terjadi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading