Trump Susul Joe Biden, IHSG Jatuh 'Berdarah-darah'

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
04 November 2020 15:50
Democratic presidential candidate former Vice President Joe Biden speaks at Mountain Top Inn & Resort, Tuesday, Oct. 27, 2020, in Warm Springs, Ga. (AP Photo/Andrew Harnik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mujur hari ini. Indeks saham acuan Tanah Air itu sempat diangkat di sesi satu perdagangan kemudian dibanting di sesi dua. 

Hari ini Rabu (4/11/2020), IHSG ditutup dengan koreksi 1,05% ke 5.105,2. Total transaksi yang tercatat mencapai Rp 8,02 triliun. Asing membukukan net sell di pasar reguler sebesar Rp 123,3 miliar. 

Saham-saham yang dilego asing adalah trio saham bank pelat merah yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBRI).


Sementara saham-saham yang dikoleksi asing adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan saham konglomerasi PT Astra International Tbk (ASII).

IHSG justru terkapar di zona koreksi ketika mayoritas bursa saham kawasan Benua Kuning berada di zona hijau. Bersama dengan bursa domestik ada bursa saham Hong Kong yang turun 0,21% serta Thailand dan India yang masing-masing terkoreksi tipis 0,01%.

Kinerja Wall Street yang impresif tadi malam ternyata tidak mampu membuat IHSG berada di zona positif sepanjang perdagangan. Sentimen yang masih dicermati oleh pelaku pasar adalah pemilihan presiden di AS. 

Sampai saat ini kandidat dari Partai Demokrat Joe Biden masih unggul dengan perolehan suara elektoral sementara 238, sedangkan Trump dari Partai Republik masih mengantongi 213 suara. 

Kontestasi politik keduanya sangatlah sengit dan dinamis. Sistem pemilu yang menggunakan lembaga pemilih atau electoral college pada akhirnya membuat demokrasi di AS tidak terjadi secara langsung. 

Untuk memenangkan pemilu salah satu kandidat harus mendapat 270 suara dari total 538 elektor yang mewakili 150 juta masyarakat AS yang berpartisipasi dalam pemilu kali ini. 

Ada 50 negara bagian yang terbagi menjadi tiga kategori, ada yang menjadi wilayah Demokrat, ada yang menjadi sarang Republik ada juga yang sifatnya swing atau ada kemungkinan bisa dimenangkan oleh salah satu pihak. 

Swing state menjadi perhatian baik kontestan, pengamat politik hingga publik karena suara para elektor dari wilayah ini lah yang nanti bisa mempengaruhi hasil akhir pemilu. 

Saat ini dari 14 negara bagian yang masuk kategori swing state, Trump unggul di sembilan wilayah. Namun, belum semua suara terhitung. Proses perhitungan membutuhkan waktu yang tidak singkat dan bisa berhari-hari.

Masih ada risiko ketidakpastian yang membuat pasar bisa saja bergerak volatil seperti halnya IHSG hari ini. Kontestasi politik AS akan selalu menjadi sorotan banyak pihak terutama pasar.

Pasalnya siapa yang akan jadi presiden selanjutnya akan sangat menentukan kebijakan ekonomi dan politik Paman Sam ke depannya.

Kendati perhitungan belum selesai, pasar tampaknya mulai terbiasa dengan gagasan bahwa mantan wakil presiden era Barrack Obama akan memenangkan kontestasi politik kali ini. Sejauh ini berdasarkan poling popularitas Biden memang diunggulkan dibandingkan Trump.

Setelah pemilu siapapun presidennya masih harus berkutat dengan urusan paket stimulus ekonomi jilid II yang saat ini tengah buntu. Saat ini, DPR AS dikuasai Partai Demokrat, yang merupakan oposisi. Hal tersebut menjadi salah satu faktor alotnya pembasahan stimulus fiskal jilid II di AS.

Pemerintah dan DPR sama-sama ngotot mengajukan nilai stimulus fiskal, yang hingga saat ini belum mencapai titik temu. Sementara itu, Senat AS dikuasai oleh Partai Republik, juga bisa menentukan kebijakan pemerintah.

Kemenangan Partai Biru dengan agenda stimulus fiskal yang masif ini berpotensi mengerek naik harga aset-aset keuangan seperti emas dan saham.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading