Efek Pandemi, dari Untung Rp 1,5 T Kini KAI Rugi Rp 2,5 T

Market - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
27 October 2020 10:28
Calon penumpang Kereta Api Kertajaya menyiapkan barang di gerbong kereta Api di Stasiun Senen, Jakarta, Jumat (23/10). Pantauan CNBC Indonesia jelang masa libur panjang terlihat antrian penumpang yang naik kereta api. Salah satu calon penumpang mengatakan lebih pulang lebih awal untuk menghindari kehabisan tiket.  Penumpang kereta api (KA) diprediksi melonjak pada masa libur panjang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan cuti bersama pekan depan. Mengantisipasi lonjakan itu, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menambah perjalanan kereta api yang melayani pelanggan sebanyak 13%. VP Public Relations KAI Joni Martinus menyebut, Jumlah perjalanan Kereta Api Jarak Jauh yang melayani pelanggan pada periode 27 Oktober hingga 1 November 2020 sebanyak 505 KA. Angka itu naik 13% dibandingkan pada 20 hingga 25 Oktober sebanyak 448 KA.  (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat kerugian sekitar Rp 2,5 triliun pada kuartal III-2020. Angka tersebut berbanding terbalik dengan capaian tahun 2020 dengan angka untung sekitar Rp 1,5 triliun.

Secara rinci, 30 September 2020 KAI mencatat jumlah kerugian komprehensif tahun berjalan sebesar Rp 2,51 triliun, dari untung Rp 1,474 triliun di 30 September 2019.

Adapun jumlah pendapatan KAI anjlok menjadi Rp 12,19 triliun di 30 September 2020 dari Rp 17,8 triliun pada periode sebelumnya. Dari angka tersebut, hanya pendapatan konstruksi yang mengalami kenaikan jadi Rp 2,3 triliun dibandingkan tahun sebelumnya Rp 1,4 triliun. Sedangkan pendapatan angkutan dan usaha lainnya turun drastis dari Rp 16,3 triliun menjadi Rp 9,8 triliun.


Sementara itu, total arus kas yang diperoleh dari aktivitas operasi minus Rp 1,87 triliun di 30 September 2020, dari positif Rp 1,57 triliun di 30 September 2019. Sedangkan kas bersih digunakan untuk investasi sebesar Rp 3,59 triliun.

Sementara itu, KAI juga mendapatkan tambahan kas dari pinjaman bank sebesar Rp 10,78 triliun. Secara keseluruhan, KAI masih menyisakan kas sebesar Rp 2,74 triliun di 30 September 2020.

Sebelumnya, PT KAI mendapatkan tambahan kredit sindikasi senilai Rp 4,2 triliun untuk pembiayaan pembangunan depo dan stasiun Light Rail Transit (LRT) Jabodebek. Dengan demikian, total pinjaman yang didapat oleh KAI untuk penyelesaian proyek ini mencapai Rp 23,45 triliun.

Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo mengatakan pinjaman ini akan digunakan untuk merampungkan proyek LRT yang ditargetkan beroperasi pada 2022 nanti.

"Diharapkan dengan adanya transportasi massal yang dapat diandalkan, dapat semakin meningkatkan mobilitas masyarakat dalam beraktivitas sehingga mempercepat pemulihan ekonomi nasional nantinya," kata Didiek dalam siaran persnya, Jumat (18/9/2020).

Adapun pinjaman ini merupakan sindikasi dari 15 bank mulai dari Himbara (Himpunan Bank-bank Milik Negara), Bank Pembangunan Daerah (BPD), Bank Swasta Nasional dan Bank Swasta Asing.

Bank-bank tersebut yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Berikutnya ada PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), PT Bank DKI, MUFG, PT Bank KEB Hana Indonesia, PT Shinhan Bank Indonesia, PT Bank Sumut, PT Bank Mega Tbk (MEGA), PT Bank Permata Tbk (BNLI), PT Bank BJB Tbk (BJBR), dan PT Bank Papua.

Pinjaman ini merupakan tambahan atas pinjaman sebelumnya pada 2017 lalu yang senilai Rp 18,10 triliun untuk kredit investasi dan Rp 1,15 triliun untuk modal kerja.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading