Jangan Kaget! Selama Pandemi Banyak yang Jadi Investor Saham

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
23 October 2020 14:12
Suasana seminar yang bertajuk kemudahan Investasi Pasar Modal di Era Ekonomi Digital di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/8). Seminar ini diisi oleh pembicara dari Ady F. Pangerang, Presiden Direktur Bareksa.com, Samuel Sentana, Head of Fintech Tokopedi, dan Destya Danang Pradityo, Head of Financial & Payment Services BukaLapak. Seminar ini merupakan satu rangkaian dari acara Investor Summit 2018. Dalam seminar ini selain menginformasikan bahwa pembelian reksa dana telah dapat dilakukan melalui aplikasi dari kedua perusahaan, Bareksa, Tokopedia, dan BukaLapak juga membeberkan rencana untuk lebih membuka akses dan kemudahan masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah pandemi virus Corona, perusahaan sekuritas justru mencatatkan penambahan investor baru.

Direktur Retail dan Treasury Mandiri Sekuritas, Theodora VN Manik mengatakan, di masa pandemi, hampir 95% nasabah ritel melakukan tarnsaksi secara daring. Perseroan juga mencatatkan peningkatan investor baru lebih dari 50% dibanding periode yang sama tahun lalu.

"Nilai transaksi harian nasabah retail juga meningkat sekitar 70% secara tahunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu," lanjut Theodora, dalam siaran pers, Jumat (23/10/2020).


Sampai dengan enam bulan pertama tahun 2020, Mandiri Sekuritas mencatatkan peningkatan sebanyak lebih dari 26.000 nasabah baru untuk segmen ritel menjadi total 145 ribu nasabah.

Hingga penghujung tahun ini, Mansek menargetkan penambahan investor baru secara akumulasi menjadi 150 ribu nasabah. Sampai dengan sisa tahun ini, perseroan menargetkan sebanyak 150.000 nasabah.

Kenaikan investor ritel ini juga dialami di negara-negara kawasan Asia Tenggara. Pasalnya, alokasi dana masyarakat yang tadinya konsumtif, di saat pandemi mulai diarahkan untuk berinvestasi di pasar modal.

Menurut Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa BEI, Laksono Widodo di masa pandemi, terjadi peningkatan transaksi dari investor ritel domestik. Hal ini menjadi katalis yang positif untuk meredam tekanan pasar saham yang terguncang arus modal keluar yang begitu besar sejak awal tahun ini.

"Investor ritel mendominasi rata-rata transaksi harian, 51% dari investor ritel dengan rata-rata nilai transaksi harian Rp 6,3 triliun," ujar Laksono, dalam diskusi "The Role of Retail Investors in Maintaining Market Stability amid Pandemic Situation" secara daring, Rabu (21/10/2020).

Menariknya, dari sisi demografi, investor ritel tersebut sebanyak 47,57% didominasi dari kalangan generasi milenial atau berusia di bawah 30 tahun. Beberapa hal yang menjadi alasan transaksi ritel meningkat karena mereka memiliki uang tunai berlebih yang mulai diinvestasikan di pasar saham di tengah era suku bunga rendah.

Peningkatan juga terjadi di Bursa Saham Thailand (SET). Menurut Senior Executive Vice President, Corporate Strategy The Stock Exchange of Thailand Saraphol Tulayasathien, nilai rerata transaksi harian di Bursa Thailand naik 19% dari 1,707 juta US$ 2.037 juta US$. "Bursa Thailand juga mencatat adanya penambahan sebanyak 230 ribu investor baru sampai dengan Agustus 2020," imbuhnya lagi.

Janice Kan, Managing Director, Head of Markets, Equities at SGX menuturkan, Bursa Singapura juga mencatat kenaaikan partisipasi investor ritel menjadi 20% dari sebelumnya 15% selama pandemi. Hal ini juga turut memberikan andil terhadap naiknya rata-rata nilai transaksi harian di di Bursa Negeri Singa tersebut.

"Terjadi peningkatan nilai transaksi harian sebesar 40%. Sedangkan pembukaan rekening efek mengalami kenaikan sebanyak 25%," katanya.

Kenaikan nilai transaksi sampai dua digit juga terjadi di Bursa Malaysia. Hal ini, menurut Mohd Zulkifli Mustafa, Director, Corporate Strategy, Bursa Malaysia Berhad tak lain disebabkan meningkatnya partisipasi dari investor ritel.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading