Tutup 7 Gerai karena Covid-19, Q3 Matahari Rugi Rp 616 M

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
23 October 2020 11:12
Karyawan mengangkat papan Bazar Matahari di Kawasan Mall Blok M, Jakarta, Selasa, 24/3. Patuhi social distancing, sejumlah tenant di mal Jakarta tutup sementara. sebagai salah satu upaya pencegahan penularan dan penyebaran virus corona tipe baru. Penutupan sementara berlangsung mulai Senin kemarin. Salah satu tenant Bazar Matahari ini mulai berkemas-kemas untuk menaruh barangnya di gudang. Pantauan CNBC Indonesia lokasi tenant yang berada di lantai 1 Mall Blok M ini tadinya menjajakan dagangannya seperti pakaian dan sepatu yang dijual secara diskon. Karyawan penjaga Bazar Matahari yang tidak mau disebutkan namanya

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten ritel PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) sepanjang sembilan bulan tahun ini membukukan rugi bersih senilai Rp 616,60 miliar. Nilai ini berbanding terbalik dengan periode akhir September 2019 dimana perusahaan masih mengantongi keuntungan senilai Rp 1,18 triliun.

Pendapatan perusahaan pun terjun bebas 57,49% secara year-on-year (YoY) dengan posisi di akhir kuartal III-2020 senilai Rp 3,32 triliun. Jumlah ini jauh sekali di bawah pendapatan di periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp 7,82 triliun.

Turunnya pendapatan ini paling dalam terjadi pada penjualan eceran yang turun menjadi Rp 2,13 triliun dari sebelumnya Rp 5,02 triliun di periode tersebut.


Penjualan konsinyasi-bersih juga turun menjadi Rp 1,14 triliun dari Rp 2,71 triliun. Dan pendapatan jasa juga ikut turun menjadi Rp 50 miliar dari Rp 89,88 miliar.

Penurunan kinerja yang signifikan ini setelah setelah diberlakukannya kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta sehingga perusahaan terpaksa membatasi kembali bisnisnya di wilayah ini. Padahal kinerja perusahaan disebutkan sudah mulai pulih secara stabil sejak Juli, hingga pertengahan September.

CEO dan Wakil Presiden Direktur Matahari Terry O'Connor mengatakan dengan adanya pembatasan ini hingga periode tersebut perusahaan telah menutup tujuh gerai format besar dan seluruh gerai khusus ditutup. Hal ini dilakukan untuk melakukan efisiensi akibat operasional yang tak maksimal akibat pandemi Covid-19.

Langkah efisiensi lainnya yang dilakukan perusahaan adalah pengetatan biaya, termasuk upaya negosiasi untuk memperoleh keringanan sewa, yang menghasilkan penurunan beban operasional sebesar 26,2% pada kuartal ketiga dan 29,3% pada periode Januari sampai dengan September.

"Semua rencana pemulihan kami berjalan sesuai rencana, namun peningkatan kunjungan ke gerai kami tertahan oleh PSBB pada September 2020. Gerai kami terus menjunjung tinggi 5 Komitmen Matahari, dan tetap melayani pelanggan dengan baik dengan protokol kesehatan yang ketat. Kami telah melunasi fasilitas kredit tambahan yang diperoleh di bulan Mei tahun ini," kata Terry dalam siaran persnya, dikutip Jumat (23/10/2020).

"Kami melakukan kontrol yang ketat atas pengeluaran kami dan pembekuan belanja modal kami masih berlaku selain terkait dua toko yang dibuka pada kuartal ini. Pemulihan pemotongan gaji telah dimulai sejalan dengan pemulihan kami, dan direncanakan untuk pulih sepenuhnya pada Kuartal 4 2020."

Hingga saat ini perusahaan masih mengoperasikan 153 gerai. Diperkirakan perusahaan masih akan melakukan penutupan tiga gerai lagi hingga akhir tahun mengingat target perusahaan hanya akan mengoperasionalkan 150 gerai format besar yang menguntungkan di akhir 2020.

Nilai aset perusahaan mengalami kenaikan yang cukup besar menjadi Rp 7,44 triliun pada akhir September lalu dari posisi akhir Desember 2019 yang senilai Rp 4,83 triliun. Kenaikan paling besar terjadi pada aset tak lancar yang tumbuh menjadi Rp 4,76 triliun dari Rp 2,08 triliun di akhir tahun lalu.

Sejalan dengan itu, nilai liabilitas perusahaan juga mengalami kenaikan yang signifikan dari sebelumnya Rp 3,08 triliun pada 31 Desember 2020 menjadi Rp 6,65 triliun di akhir September 2020.

Kenaikan signifikan terjadi pada liabilitas jangka panjang yang tercatat senilai Rp 3,29 triliun dari sebelumnya senilai Rp 488,44 miliar. Kenaikan ini disebabkan karena adanya kewajiban sewa jangka panjang yang senilai Rp 2,79 triliun yang sebelumnya tidak ada pada periode sebelumnya.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading