Newsletter

Semua Mata Tertuju pada China, IHSG Mau ke Mana?

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
19 October 2020 06:20
Red flags flutter outside the Great Hall of the People before the second plenary session of the Chinese People's Political Consultative Conference (CPPCC) in Beijing, China March 8, 2018. REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak menguat pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah, sampai harga obligasi mengarah ke atas.

Sepanjang minggu kemarin, IHSG menguat 0,98% secara point-to-point. Namun, dalam harian pada pekan kemarin, IHSG akhirnya melemah 2 hari berturut-turut menjelang akhir pekan. Pada hari Kamis (15/10/2020), IHSG melemah hingga 1% lebih atau 1,32%.


Hal ini dikarenakan aksi profit taking yang tak terbendung, karena selama 8 hari berturut-turut, IHSG mengalami penguatan yang tiada henti.

Jika dibandingkan dengan bursa saham Asia lainnya, memang IHSG masih berada di zona hijau. Namun IHSG kalah dengan indeks di Hong Kong dan China, di mana masing-masing masih menguat di atas 1% sepekan kemarin.

Dalam periode yang sama, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis 0,03% di perdagangan pasar spot. Namun nasibnya tidak seperti IHSG, rupiah cenderung berfluktuasi secara harian.

Di awal pekan, rupiah melemah tipis 0.03%, namun beberapa hari berikutnya, rupiah mulai menguat, namun cenderung stagnan. Pada akhir pekan, rupiah melemah kembali, namun tipis 0.07%.

Sedangkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun 14,1 basis poin (bps) secara point-to-point pada pekan lalu.

Penurunan yield menandakan harga obligasi sedang naik karena tingginya minat pelaku pasar. Ini terlihat dari kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) sepanjang Oktober 2020 yang

Dari dalam negeri, sentimen pekan lalu terbilang banyak, mulai dari keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), neraca perdagangan, hingga ramalan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF).

Pada 13 Oktober lalu, Bank Indonesia (BI) mengumumkan tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate di angka 4%. Fokus BI tetap tidak berubah yaitu menitikberatkan pada stabilitas nilai tukar.

Namun dalam pemaparan kebijakan moneternya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan suatu berita baik. Bank sentral Tanah Air tersebut memperkirakan transaksi berjalan RI yang selama ini defisit akan berubah menjadi surplus.

Apabila ramalan BI tersebut terwujud, maka ini menjadi pertama kalinya sejak kuartal terakhir tahun 2011 neraca transaksi berjalan mencatatkan surplus.

Berikutnya, IMF telah merilis proyeksi ekonomi global terbaru pada pekan lalu. Dalam laporan berjudul "A Long and Difficult Ascent" tersebut, IMF merevisi 'ramalan' pertumbuhan ekonomi global dan sejumlah negara.

IMF kini memperkirakan ekonomi dunia pada 2020 mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) 4,4%. Membaik dibandingkan proyeksi yang dirilis pada April lalu yaitu sebesar -4,9%.

Namun sayang, IMF malah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada Juni lalu, IMF memperkirakan ekonomi Indonesia terkontraksi 0,3% pada tahun ini. Dalam laporan Oktober, proyeksinya memburuk menjadi kontraksi 1,5%.

"Hampir seluruh negara berkembang diperkirakan mencatat kontraksi ekonomi tahun ini. Sementara negara seperti India dan Indonesia tengah berjuang untuk membuat pandemi lebih terkendali," tulis laporan IMF.

Dari global, Dari luar negeri, sentimen negatif datang dari AS yang dan Benua Biru. Di AS negosiasi RUU stimulus ekonomi Covid-19 lanjutan kembali mandek dan kabarnya tak akan ada kesepakatan dalam waktu dekat sebelum pemilu AS yang digelar November nanti usai.

Masih ada perbedaan seputar besaran stimulus yang diajukan oleh para pemangku kebijakan AS yang terdiri dari pemerintah yakni Donald Trump sebagai presiden, Partai Republik dan Partai Demokrat.

Dari Benua Biru, lonjakan kasus yang terjadi di Eropa membuat sebagian negara seperti Inggris, Perancis hingga Polandia kembali menghadapi kondisi darurat dan memutuskan untuk memperketat mobilitas publiknya.

Wall Street Menguat 'Tipis-tipis'
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading