Duh...Makin Loyo, Kredit Bank di September Cuma Naik 0,12%

Market - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
13 October 2020 17:10
Perry Warjiyo di Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia Bulanan - Oktober 2020 (Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) menyatakan pertumbuhan kredit perbankan nasional pada September 2020 ini kembali melorot dan hanya naik 0,12% secara year on year (yoy) dibandingkan dengan Agustus 2020 yang masih sebesar 1,04%.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan fungsi intermediasi dari sektor keuangan memang masih lemah akibat pertumbuhan kredit yang terbatas sejalan dengan permintaan domestik yang belum kuat dan kehati-hatian perbankan akibat berlanjutnya pandemi Covid-19.

Namun, meski penyaluran kredit turun, tapi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik dari 11,64% (yoy) pada Agustus 2020 menjadi 12,88% (yoy) di September, karena didorong ekspansi keuangan pemerintah.


"Ke depan, intermediasi perbankan diperkirakan akan membaik sejalan dengan prospek perbaikan kinerja korporasi dan pemulihan ekonomi domestik serta konsistensi sinergi kebijakan yang ditempuh," katanya, dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur BI, Selasa (13/10/2020).

Sebagai perbandingan, penyaluran kredit perbankan di Agustus sebesar 1,04% (yoy), sedangkan pertumbuhan DPK juga naik 11,64% (yoy).

Penyaluran kredit per Juli 2020 masih lebih tinggi yakni tumbuh menjadi 1,53% dibandingkan dengan Juni 2020 sebesar 1,34%. Sementara DPK pada Juli meningkat 8,3%, padahal di Juni posisi DPK hanya tumbuh 7,95%.

Perry mengatakan ketahanan sistem keuangan di September tetap kuat, meskipun risiko dari meluasnya dampak Covid-19 terhadap stabilitas sistem keuangan terus dicermati.

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Agustus 2020 tetap tinggi yakni 23,39%, dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah yakni 3,22% (bruto) dan 1,14% (neto).

Dia menjelaskan, kinerja korporasi triwulan III 2020 terindikasi secara perlahan membaik, tercermin dari peningkatan penjualan, kemampuan bayar, serta penerimaan perpajakan terutama pada sektor Industri dan perdagangan.

Tak hanya itu, restrukturisasi kredit perbankan masih berlanjut, termasuk untuk UMKM yang mencapai 36% dari total kredit, ditopang likuiditas yang meningkat.

Perry menegaskan, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan makroprudensialnya dengan kebijakan fiskal oleh Pemerintah, pengawasan mikroprudensial oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan penjaminan simpanan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk memperkuat stabilitas sistem keuangan serta mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan bagi pemulihan ekonomi nasional.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 12-13 Oktober 2020 juga memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 4,00%.

BI sudah menahan bunga acuan ini 4 bulan berturut-turut. BI memandang bunga acuan tersebut masih inline dalam mendorong pemulihan ekonomi dari dampak pandemi COVID-19.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 4%," kata Perry.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading