Bisnis Maskapai Rontok, Ini Ramalan Fitch Kapan Bisa Pulih

Market - chd, CNBC Indonesia
13 October 2020 07:18
Maskapai Penerbangan Lion Air. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga peringkat internasional, Fitch Ratings, memprediksi lalu lintas penerbangan global tahun ini hingga awal tahun depan belum bisa pulih seperti sebelum terjadinya pandemi virus corona (Covid-19).

Fitch meramal pemulihan lalu lintas udara secara penuh baru dapat terjadi pada kuartal II-2021 atau paling lama kuartal IV-2024.

Hal ini membuat pemulihan di industri penerbangan masih dilanda ketidakpastian.


Namun, Fitch berharap pemulihan sektor penerbangan dapat segera terjadi secara cepat, di tengah variasinya dampak akibat pandemi Covid-19 yang berimbas pada lalu lintas penerbangan global dan memukul sektor pariwisata yang hingga kini terseok-seok.

"Kami berharap dapat melihat perubahan lalu lintas udara secara signifikan selama beberapa tahun ke depan karena kebijakan penguncian (lockdown) membuat tingkat lalu lintas turun," kata Jeffrey Lack, Direktur, Fitch Ratings," dalam keterangan resmi, dikutip CNBC Indonesia, Selasa (13/10/2020).

"Perjalanan domestik dan rekreasi mungkin akan pulih jauh lebih awal daripada [penerbangan] internasional dan bisnis."

Fitch menganalisis, banyak bandara mengalami penurunan lalu lintas selama satu bulan lebih, yakni 90% (year-on-year/yoy), kecuali China, yang memiliki penurunan 85% pada Februari.

Sedangkan pada September, lalu lintas penerbangan dunia masih ambles sekitar 80%. Namun untuk China, penurunan tersebut sudah berkurang, yakni sekitar 42%.

Tingkat kasus virus corona (Covid-19) memiliki hubungan terbalik dengan tingkat lalu lintas penerbangan.

Artinya, jika kasus Covid-19 terus bertambah, maka lalu lintas penerbangan akan turun terus, apalagi suatu negara akan menerapkan karantina wilayah (lockdown) secara menyeluruh.

Kinerja bandara rentan terhadap memburuknya pandemi, meskipun lockdown pada waktu yang akan datang kemungkinan diperlonggar oleh beberapa negara yang mengalami pandemi.

Jika pandemi masih terjadi hingga beberapa tahun mendatang, maka kinerja maskapai penerbangan akan terdampak kembali. Kemungkinannya adalah masalah likuiditas atau hal terburuknya ialah gelombang kebangkrutan.

Fitch telah mengembangkan berbagai skenario untuk menilai dampak potensial pandemi di bandara-bandara yang terdampak.

Fitch juga menilai kemampuan dan niat perusahaan penerbangan, termasuk emiten sektor penerbangan di pasar modal, untuk mengurangi biaya operasi dan memanfaatkan fleksibilitas neraca, dengan rencana belanja modal (capex) ditangguhkan dan dividen berkurang.

Maskapai penerbangan memang amat terpukul karena pandemi virus corona (Covid-19). Penguncian (lockdown) yang dilakukan dan membatasi gerak manusia, membuat maskapai dililit krisis.

Tak terhitung maskapai dunia yang meminta bantuan keuangan (bailout) karena tak bisa beroperasi normal. Maskapai juga merumahkan pegawai bahkan PHK.

Dikutip dari CNBC International, setidaknya ada 43 maskapai komersial global di ambang kebangkrutan sejak awal 2020.

"Tanpa intervensi dan dukungan pemerintah, kami akan mengalami kebangkrutan massal dalam enam bulan pertama krisis ini," kata analis Sobie Aviation, Brendan Sobiei.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (International Air Transport Association) memperingatkan bahwa kerugian di industri penerbangan akan terus terjadi. Bahkan perhitungan per bulan di 2021, industri akan menderita hingga US$ 6 miliar (Rp 88 triliun).

Pemulihan yang lambat menjadi alasan. Asosiasi memprediksi jumlah penumpang baru akan kembali ke level 2019 pada 2024 nanti.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading