Newsletter

Stimulus Ditunda, Insentif Receh Disiapkan, Trump Maunya Apa?

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
08 October 2020 06:20
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak memakai masker saat berada di Gedung Putih. (AP/Alex Brandon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks acuan bursa berbalik menguat di akhir perdagangan Rabu (7/10/2020) setelah sepanjang hari tertekan didera sentimen negatif dalam dan luar negeri. Hari ini, angin segar bertiup dari Wall Street yang bakal membantu penguatan bursa yang tertahan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup di zona hijau dengan penguatan 0,1% ke level 5.004,532. Penguatan terjadi di akhir-akhir perdagangan, setelah sepanjang hari kemarin indeks acuan bursa ini berkutat di zona merah.


Data perdagangan mencatat investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) Rp 411 miliar di pasar reguler dari nilai transaksi Rp 16,8 triliun. Nilai transaksi melambung karena dua transaksi jumbo di pasar negosiasi yakni PT Bank Permata Tbk (BNLI) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Di kawasan Asia, mayoritas bursa saham tercatat menguat seperti indeks Hang Seng di Hong Kong yang terbang 1,09%, indeks STI Singapura yang menguat 0,36% dan KOSPI di Korea Selatan yang melesat 0,89%.

IHSG sempat tertekan oleh aksi demonstrasi dan mogok kerja buruh yang menolak pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker), sementara di Amerika Serikat (AS) Presiden Donald Trump secara sepihak menyatakan penghentian negosiasi stimulus putaran kedua.

Sentimen negatif tambahan muncul dari cadangan devisa (cadev) Indonesia per September yang merosot nyaris US$ 2 miliar menjadi US$ 135,2 miliar. Angka September ini lebih baik daripada proyeksi Tradingecnomics yang memperkirakan angka US$ 134,1 miliar. Pada bulan sebelumnya, posisi cadev tercatat US$ 137 miliar.

Penurunan cadangan devisa pada September 2020, menurut Bank Indonesia, antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga berbalik menguat dengan dibanderol Rp 14.690 per dolar AS di pasar spot atau terapresiasi sebesar 0,14% dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin.

Namun, penguatan tidak terjadi di pasar surat utang, di mana mayoritas harga obligasi pemerintah atau surat berharga negara (SBN) ditutup melemah. Hanya SBN tenor 5 tahun dan 30 tahun yang masih membukukan penguatan harga.

Dilihat dari imbal hasilnya (yield), hampir semua SBN mengalami penguatan yield, namun tidak untuk SBN tenor 5 tahun yang mencatatkan pelemahan yield 0,4 basis poin ke level 5,776% dan yield SBN berjatuh tempo 30 tahun yang turun 1 basis poin ke 7,440.

Sementara itu, yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan acuan yield obligasi negara naik 0,1 basis poin ke level 6,896% pada hari ini. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga kenaikan yield menunjukkan harga obligasi yang turun. Demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Wall Street Lompat Dipicu Ekspektasi Stimulus Receh
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading