Ke Mana Dana Asing yang Kabur Rp 60 T? Ini Kata JPMorgan

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
30 September 2020 15:47
JPMorgan Chase

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hampir 10% sepanjang September ini, investor asing terus keluar (net sell) dari bursa saham Tanah Air.

Net sell asing tercatat secara year to date (ytd) mencapai Rp 60 triliun hingga Rabu (30/9/2020) di pasar reguler.

Data BEI mencatat, IHSG pada perdagangan Rabu ini sesi II pukul 14.18, terkoreksi 0,20% di posisi 4.870. Sebulan terakhir IHSG minus 8,32% dan year to date IHSG ambles 22,72%.


Net sell asing hari ini mencapai Rp 470 miliar, sebulan terakhir asing keluar Rp13,82 triliun, dan tahun berjalan (ytd) sejak Januari mencapai Rp 60,01 triliun.

Saham-saham perbankan besar dilego di sesi I hari ini. Harga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi paling dalam yakni 3,05% ke Rp 4.920/saham. Net sell BRMI tercatat sebesar Rp 95,90 miliar.

Berikutnya, penurunan saham diikuti oleh saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang turun 2,44% ke Rp 4.400/saham dan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang turun 1,67% ke Rp 1.175/saham.

Net sell saham BBNI mencapai Rp 15,89 miliar, sementara BBTN sebesar Rp 2,76 miliar.

Tak ketinggalan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga koreksi 0,99% ke Rp 3.010/saham diikuti kemudian oleh saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 0,91% ke Rp 27.275/saham.

Net sell saham BBRI mencapai Rp 52,16 miiar, sementara saham BBCA yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar di BEI (Rp 672 triliun) mengalami net sell Rp 23,71 miliar.

Menurut Executive Director, Head of Indonesia Research and Strategy JPMorgan Sekuritas Indonesia Henry Wibowo, pelaku pasar masih mencermati sentimen Covid-19 di Indonesia yang meningkat dan implementasi PSBB (pembatasan sosial berskala besar) khususnya di Ibu Kota Jakarta.

"Terutama announcement PSBB baru sejak 14 September, kita bisa lihat market [IHSG] turun hampir 10% sepanjang September. Sangat underperformed [IHSG] dibanding region," katanya dalam program Power Lunch, di CNBC TV Indonesia yang dipandu Muhammad Gibran, Rabu (30/9/2020). 

JPMorgan juga tengah mencoba membandingkan dampak terhadap ekonomi dari PSBB baru dengan PSBB yang pernah diterapkan di DKI Jakarta pada April dan Mei lalu.

"Di April dan Mei, second quarter total pertumbuhan GDP kita turun 5%, lalu net profit emiten atau market earnings, turun 30%. Apakah kuartal 3 dan 4 ini akan sama dengan kuartal 2, dikarenakan PSBB, lagi, ini akan menjadi teka-teki dan dicermati pasar."

Namun sentimen baiknya adalah, pihaknya menilai PSBB yang diterapkan itu hanya terjadi di Jakarta bukan seluruh Indonesia. Tak hanya itu, PSBB baru juga tidak seketat pada April dan Mei meskipun lebih ketat dari new normal yang berlaku Juni-Agustus lalu.

"Harusnya dampak ekonomi ga separah di second quarter, tapi memang economy recovery, speed-nya akan lebih lambat."

Keluarnya dana asing menurut dia salah satunya dengan melihat posisi investor global saat ini yang lebih cenderung memilih investasi di negara maju (developing market) dibandingkan dengan negara berkembang (emerging market) dengan alasan sistem penanganan kesehatan yang lebih baik.

"Kita tahu Covid-19 sangat berkorelasi healthcare system, global investor posisinya saat ini cenderung ke developing dibanding emerging market seperti Indonesia, India, Filipina, di mana healthcare sistem ga sebagus negara maju."

Adapun di Asia pun, posisi investor asing cenderung memilih investasi di North East Asia (Asia Timur Laut) dibandingkan dengan South East Asia (Asia Tenggara).

"Kebanyakan sekarang lebih overweight ke North East Asia dibanding South East Asia, North East seperti China, Hong Kong, Korea, Taiwan. Global, investor cenderung lebih menempatkan dana ke developing dan melihat sistem kesehatan lebih baik, tren penurunan Covid-19, dengan melihat curva Covid-19, khusus di Asia tenggara, Singapura dan Thailand lebih bagus."


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading