Internasional

Tak Segagah Messi! Argentina Betah Resesi, Q2 Minus 19,1%

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
23 September 2020 12:03
A man takes part in protest against the government-ordered lockdown to curb the spread of the new coronavirus in Buenos Aires, Argentina, Thursday, July 9, 2020. People protested across the country, the Independence Day holiday, the handling of the pandemic by the administration of President Alberto Fernandez. (AP Photo/Natacha Pisarenko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perekonomian Argentina sepertinya makin betah di jurang resesi. Selasa (22/9/2020) waktu setempat, otoritas kembali melaporkan revisi terbaru pada ekonominya, di mana ada rekor kontraksi 19,1% secara tahunan (YOY).

Corona makin menjerumuskan negara itu. Produksi dan permintaan terjun bebas, meskipun lebih baik dari perkiraan analis.



Sejak 20 Maret hingga kini negeri itu sudah dikunci (lockdown) meski belakangan pelonggaran dilakukan. Saat ini, Argentina mencatat 640.00 kasus Covid-19 terkonfirmasi dengan 13.500 kematian.

Angka ini bahkan lebih buruk dari penurunan 16,3%, yang terjadi di negeri pesepak bola Lionel Messi itu, di tahun 2020. Padahal Argentina tengah berjuang bangkit dari resesi yang sudah 'menyerang' sejak 2018.


Argentina (Source: Tradingeconomics.com/Instituto Nacional de Estadistica y Censos (Indec))Foto: Source: Tradingeconomics.com/Instituto Nacional de Estadistica y Censos (Indec)
Argentina (Source: Tradingeconomics.com/Instituto Nacional de Estadistica y Censos (Indec))


"Kuncinya adalah lockdown, yang membatasi pasokan dan merupakan pukulan terhadap permintaan, yang memukul aktivitas ekonomi pada kuartal kedua tahun 2020," kata konsultan ekonomi di negeri itu Ecolatina, dikutip dari Reuters.

"Pembatasan isolasi yang kuat yang diberlakukan dari paruh kedua Maret dan yang berlangsung hingga Agustus memiliki biaya ekonomi yang signifikan bagi seluruh negeri," kata ekonom lain, Natalia Motyl dari konsultan Libertad y Progreso.

Meski begitu, ini sedikit lebih baik dari jejak pendapat Reuters. Di mana 14 analis lokal dan asing memperkirakan kontraksi 19.9% untuk Aptil-Juni. Namun data Q2 Argentina lebih parah dari tetangganya Brasil, meski lebih baik dari Peru.

Selain resesi, Argentina juga terjerat utang dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Namun dalam pernyataannya Presiden Alberto Fernandez menegaskan negara itu pasti akan membayar.

Tapi ia mengisyaratkan harus ada syarat utang akan dinegosiasikan di pembicaraan mendatang. Ia mengatakan tidak akan menyetujui persyaratan yang membahayakan pemulihan ekonominya.

Argentina berhutang US$ 44 miliar. Ini disepakati saat Presiden Mauricio Macri
berkuasa.






[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading