Newsletter

Waspada! Sentimen Negatif Datang dari '4 Penjuru Mata Angin'

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 September 2020 06:15
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Kamis, 12 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5,01% ke 4.895,75. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara (trading halt) setelah  Harga tersebut ke 4.895,75 terjadi pada pukul 15.33 WIB.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri bervariasi pada perdagangan awal pekan kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah lebih dari 1% hingga ke bawah level 5.000.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 249 miliar di pasar reguler dengan nilai transaksi mencapai Rp 6,8 triliun.

Skandal bank raksasa yang mengelola dana mencurigakan membuat sentimen pelaku pasar global memburuk, yang turut memukul IHSG.


Skandal tersebut masih akan mempengaruhi pergerakan pasar keuangan dalam negeri hari ini, Selasa (22/9/2020). Sentimen negatif seolah datang dari 4 penjuru mata angin, sebab selain skandal perbankan, isu lain yakni Wall Street yang kembali ambrol, lonjakan kasus penyakit virus corona (Covid-19) di Inggris, hingga rencana amandemen undang-undang Bank Indonesia (BI), semuanya memberikan sentimen negatif, dan akan dibahas pada halaman 3.

Sementara itu, rupiah sukses membukukan penguatan 5 hari beruntun di awal pekan. Mata Uang Garuda menguat 0,27% ke Rp 14.690/US$ Senin kemarin, sementara dalam 5 hari terakhir, total penguatan rupiah sebesar 1,14%.

Dari pasar obligasi, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun turun 3,8 basis poin (bps) menjadi 6,877%.

Sebagai informasi, pergerakan yield berbanding terbalik dengan harganya. Saat harga naik, yield akan turun, sementara saat harga turun yield akan naik.

Penguatan rupiah dan SUN terjadi setelah Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) pada pekan lalu mengumumkan akan mempertahankan suku bunga <0,25% hingga tahun 2023.

Suku bunga rendah yang ditahan dalam waktu lama artinya yield berinvestasi di obligasi (Treasury) AS menjadi sangat rendah, bahkan bisa negatif jika memperhitungkan inflasi. Sehingga berinvestasi di AS menjadi kurang menguntungkan, dampaknya dolar AS jadi kurang bertenaga.

Perbedaan yield tersebut kian terasa ketika disandingkan dengan obligasi Indonesia. Yield obligasi tenor 10 tahun hari ini berada di level 6,877% sementara Treasury tenor yang sama di level 0,6691%. Ada selisih lebih dari 6%.

Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan pada pekan lalu membuat selisih yield tersebut masih tetap terjaga.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 16-17 September 2020 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 4%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,75%," papar Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam keterangan usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode September 2020, Kamis (17/9/2020).

Perry mengatakan BI tetap mempertahankan suku bunga acuan pada September ini dengan mempertimbangkan berbagai hal mulai dari inflasi hingga sistem keuangan baik di domestik maupun global.

"Keputusan ini mempertimbangkan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, di tengah inflasi yang diperkirakan tetap rendah," ujar Perry melalui konferensi pers virtual, Kamis (17/9/2020).



Wall Street Berdarah-darah (Lagi)
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading