Internasional

Dapat Bailout, Air France-KLM Cuma Bisa Bertahan 12 Bulan!

Market - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
21 September 2020 20:20
An Air France Airbus A318 airplane lands at the Charles-de-Gaulle airport in Roissy, near Paris, France, March 23, 2018. REUTERS/Pascal Rossignol

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana talangan (bailout) yang diberikan oleh pemerintah Prancis dan Belanda akan membuat maskapai Air France-KLM bertahan kurang dari setahun. Hal ini dibeberkan oleh CEO Air France-KLM, Benjamin Smith pada Senin (21/9/2020).

"Dukungan ini akan memungkinkan kami untuk bertahan kurang dari 12 bulan," kata Smith, dalam wawancara dengan harian Prancis l'Opinion.

Pernyataan Smith ini kemungkinan akan memicu suntikan modal lagi dari pemerintah.


Smith mengatakan diskusi sedang berlangsung dengan pemegang saham untuk menopang grup maskapai penerbangan, dan langkah yang akan diambil sebelum pertemuan tahunan reguler berikutnya pada kuartal kedua tahun 2021.

"Satu, tiga, atau lima miliar euro? Masih terlalu dini untuk memperkirakan kemungkinan rekapitalisasi," katanya.

Dia menambahkan grup maskapai ini masih memiliki 14,2 miliar euro atau setara Rp 247 triliun (kurs Rp 17.427/euro) dalam bentuk tunai atau yang tersedia dalam plafon kredit.

Pemegang saham utama maskapai ini yakni pemerintah Prancis dengan 14,3% saham, pemerintah Belanda 14%, serta maskapai Delta dan China Eastern masing-masing 8% saham.

Selain itu, Smith juga memperingatkan bahwa desakan agar maskapai penerbangan berkontribusi lebih banyak terkait dengan menyisihkan dana untuk memerangi perubahan iklim dapat menjadi bencana bagi kelangsungan hidup maskapai yang sudah dihantam akibat pandemi virus corona.

Ketika negara-negara memberlakukan penguncian (lockdown) awal tahun 2020 untuk menekan angka penyebaran corona, permintaan penerbangan di seluruh dunia anjlok hingga membuat banyak maskapai gulung tikar.

Sejumlah negara turun tangan dengan mengeluarkan dana bantuan, termasuk Prancis yang memberikan 7 miliar euro atau Rp 122 triliun kepada Air France, dan Belanda yang memberikan paket dana 3,4 miliar euro atau Rp 59 triliun kepada maskapai tersebut.

Namun pemerintah kini berada di bawah tekanan untuk mengikat dana talangan bagi maskapai penerbangan dengan adanya komitmen anggaran terhadap lingkungan.

Satu proposal yang datang dari konvensi yang diajukan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron juga akan menelan biaya sekitar 4,2 miliar euro.

Smith mengatakan pengenaan biaya lingkungan bagi maskapai menjadi sesuatu yang "tidak bertanggung jawab dan menjadi bencana" bagi maskapai yang dipimpinnya ini.

Alasannya adalah lalu lintas udara meningkat sangat lambat karena banyak negara di belahan bumi sekarang mengkhawatirkan gelombang kedua penyebaran virus corona.

"Jika kita mendasarinya pada beberapa minggu terakhir, jelas bahwa pemulihan lalu lintas akan lebih lambat dari yang diharapkan," katanya.

Dia mengatakan jika dana talangan secara penuh dimanfaatkan maskapai, maka industri ini berharap bisnis maskapai penerbangan bisa pulih seperti level di 2019 pada 2024 mendatang.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading