Newsletter

Trump & CDC Tak Kompak Soal Vaksin, Wall Street Merah, IHSG?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
18 September 2020 06:01
Ilutrasi Bursa. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tak ada kejutan dari kebijakan moneter yang diambil oleh geng MH Thamrin kemarin, semua sesuai perkiraan. Usai keputusan Bank Indonesia (BI) diumumkan pasar keuangan domestik ditutup tak kompak.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,4% pada perdagangan kemarin. Aksi jual investor asing masih mewarnai perdagangan keempat pekan ini. Dalam sepekan terakhir, asing sudah melego saham-saham RI dan mencatatkan net sell sebesar Rp 5,1 triliun di seluruh pasar.


Saat asing kabur dan menjual kepemilikannya di aset-aset saham domestik, investor domestik masuk dan membantu meredam bursa saham dari kebakaran hebat. Fenomena ini menjadi hal yang positif sekaligus negatif.

Investor asing memang masih ingin berjaga jarak dari aset-aset finansial dalam negeri. Gelombang pertama wabah Covid-19 yang tak kunjung usai bahkan cenderung bertambah serta keraguan seputar outlook makroekonomi Indonesia menjadi pemicu utamanya.

Di pasar obligasi, surat berharga negara (SBN) juga mengalami nasib serupa dengan saham. Investor melakukan aksi jual pada perdagangan kemarin. Koreksi pada harga SBN berbagai tenor ini tercermin dari kenaikan imbal hasilnya (yield).

Hampir semua SBN berbagai tenor mengalami kenaikan yield kecuali untuk yang bertenor pendek 1 tahun. Sementara untuk acuan negara yakni SBN tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan yield sebesar 0,7 basis poin.

Dengan tingkat inflasi yang rendah di bawah sasaran target 2% - 4% disertai deflasi dua bulan beruntun serta kebutuhan untuk mendorong ekonomi, sebenarnya BI selaku bank sentral masih memiliki ruang untuk pemangkasan suku bunga.

Namun BI melihat bahwa saat ini likuiditas yang diinjeksikan sebenarnya sudah cukup, sehingga fokus BI kembali ke mandat utamanya yaitu menjaga stabilitas rupiah. Akibat pandemi Covid-19 nilai tukar rupiah cenderung bergerak dengan volatilitas tinggi.

Memasuki bulan Juni rupiah mulai menghentikan relinya dan terdepresiasi di hadapan dolar greenback. Secara month to date (mtd) nilai tukar rupiah telah melemah 1,79% di arena pasar spot. 

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI memilih untuk menahan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate di angka 4% dengan suku bunga koridor lending facility rate di 4,75% dan deposit facility rate 3,25%.

Sepanjang tahun ini BI telah memangkas suku bunga acuan sebesar 100 bps. Sementara bank sentral AS telah memangkas 150 bps. Selisih pemangkasan ini diharapkan mampu menjaga yield investasi di aset-aset keuangan RI masih menarik di mata investor.

Jika melihat selisih imbal hasil (spread) antara surat utang pemerintah RI dan AS masih cukup tinggi. Apalagi kalau melihat real rates-nya dengan inflasi yang rendah RI masih berada di zona positif sementara di AS suku bunga riilnya sudah berada di teritori negatif. 

Dengan begitu, BI berharap akan ada aliran masuk (inflow) yang bisa membuat rupiah tidak terus-terusan terdepresiasi. Stabilitas rupiah juga memiliki peranan penting dalam hal menjaga sentimen investor asing yang ingin masuk ke aset keuangan baik saham maupun instrumen pendapatan tetap RI.

Kebijakan the Fed dan BI yang sesuai konsensus membuat rupiah menguat tipis 0,03% ke Rp 14.820/US$ kemarin di pasar spot. Dalam tiga hari terakhir rupiah sudah mencatatkan apresiasi alias hat trick.

Wall Street Jatuh ke Zona Merah
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading