The Fed-BI-BoE Tahan Kebijakan, Poundsterling Jadi Korban

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
17 September 2020 18:59
FILE PHOTO: A bank employee counts pound notes at Kasikornbank in Bangkok, Thailand October 12, 2010. REUTERS/Sukree Sukplang/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar poundsterling melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah pada perdagangan Kamis (17/9/2020). Bank sentral Amerika Serikat (The Fed), Bank Indonesia (BI), dan bank sentral Inggris (BoE) yang sama-sama mempertahankan kebijakan moneternya pada hari ini menjadi penggerak pasar.

Pada pukul 18:11 WIB, poundsterling diperdagangkan di level US$ 1,2914, melemah 0,39% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Jika hingga akhir perdagangan nanti poundsterling berakhir di zona merah, ini akan menjadi yang pertama dalam 4 hari terakhir.

Sementara itu melawan rupiah, poundsterling melemah 0,6% ke Rp 19.104,46/GBP.


Dini hari tadi waktu Indonesia Bos The Fed, Jerome Powell, mengumumkan suku bunga tetap sebesar <0,25%, sementara nilai pembelian aset (quantitative easing/QE) tidak akan ditingkatkan. Untuk diketahui, QE The Fed saat ini nilainya tak terbatas, artinya berapapun akan digelontorkan guna memacu perekonomian.

Kebijakan QE tanpa batas tersebut membuat pasar tidak tahu pasti berapa nilai QE yang digelontorkan The Fed per bulannya.

Selain itu, Powell juga optimistis terhadap pemulihan ekonomi AS, dengan merevisi proyeksi produk domestic bruto (PDB), inflasi, serta tingkat pengangguran. 

Sementara itu Gubernur BI, Perry Warjiyo, siang tadi mengumumkan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4%.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 16-17 September 2020 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 4%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,75%," papar Perry dalam keterangan usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode September 2020, Kamis (17/9/2020).

The Fed yang mempertahankan suku bunga <0,25% sementara BI juga di 4% tentunya membuat selisih yield yang cukup tinggi. Ketika kondisi perekonomian membaik, investor akan mengalirkan modalnya ke negara yang memberikan yield lebih tinggi, sehingga rupiah mampu menguat melawan dolar AS, meski tipis 0,03% ke Rp 14.820/US$.

Kemudian sore ini, BoE mengumumkan mempertahankan suku bunga acuan 0,1%. 9 anggota pembuat kebijakan (Monetary Policy Committee/MPC) sepakat untuk tidak merubah suku bunga.

Selain itu MPC juga sepakat untuk mempertahankan program pembelian aset (quantitative easing/QE) senilai 745 miliar poundsterling.
Meski demikian, banyak ekonom yang disurvei Reuters memprediksi QE akan ditambah pada bulan November nanti. Sebab dengan nilai saat ini, program pembelian aset tersebut hanya bertahan hingga akhir 2020.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading