Ikut Terseret Minyak, Poundsterling Ambles ke Bawah Rp 19.000

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
21 April 2020 19:59
FILE PHOTO: A shop assistant counts piles of British Pound Sterling banknotes at an Apple store in London, Britain November 18, 2017. REUTERS/Russell Boyce
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar poundsterling merosot melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (21/4/2020), akibat harga minyak mentah yang ambrol serta tingkat pengangguran Inggris yang naik. Poundsterling bahkan ambles melawan rupiah, hingga ke bawah Rp 19.000/GBP.

Pada pukul 19:25 WIB, poundsterling diperdagangkan di level US$ 1,2298 ambles 1,1% di pasar spot melansir data Refinitiv. Sementara melawan rupiah, poundsterling juga ambles 1% di Rp 18.928,14/GBP, level tersebut merupakan yang terlemah dalam satu bulan terakhir. 

Jagat finansial dibuat heboh pada perdagangan hari ini setelah harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mengakhiri perdagangan Senin di wilayah minus. Berdasarkan dara Refinitiv, minyak WTI sempat ambles hingga US$ -40,32/barel sebelum mengakhiri perdagangan di US$ -37,63/barel atau ambles 305,97% kemarin.


Sontak hal tersebut membuat sentimen pelaku pasar memburuk, dan bursa saham AS (Wall Street) berakhir di zona merah. Hawa negatif pun datang ke pasar finansial, dolar AS yang menyandang status aset aman (safe haven) kembali menjadi buruan pelaku pasar.


Harga minyak mentah biasanya dijadikan acuan tingkat aktivitas ekonomi global, sebab ketika roda perekonomian berputar dengan cepat, permintaan minyak mentah untuk industri akan menjadi tinggi, dan harga minyak mentah akan naik.

Sebaliknya, ketika harga minyak mentah terus menurun, itu artinya permintaan rendah dan roda perekonomian melambat, atau bahkan terhenti sehingga tidak ada permintaan minyak mentah yang membuat harganya menjadi negatif.

"Dalang" dari semua ini sudah jelas, virus corona yang membuat banyak negara menerapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown) sehingga aktivitas ekonomi terhenti.

Sementara itu dari Inggris, pasar tenaga kerja mulai terkena dampak buruk penyakit akibat virus corona (COVID-19). Office for National Statistik hari ini melaporkan tingkat pengangguran d bulan Maret naik menjadi 4% dari bulan sebelumnya 3,9%.

Sementara itu klaim tunjangan pengangguran sepanjang bulan lalu bertambah sebanyak 12.100, jauh di bawah prediksi Reuters sebesar 172.500 klaim. Namun, data tersebut hanya sampai 12 Maret, atau 11 hari sebelum pemerintah Inggris mengumumkan lockdown.

Lockdown di Negeri Ratu Elizabeth ini juga belum akan dilonggarkan dalam waktu dekat karena jumlah korban meninggal yang dikatakan "sangat mengkhawatirkan", oleh Menteri Sekretariat Kabinet Inggris, Michael Gove. Gove Senin kemarin juga mengatakan belum mempertimbangkan melonggarkan lockdown yang sudah berlangsung selama 4 pekan.



Semakin lama lockdown berlangsung, maka pertumbuhan ekonomi akan semakin merosot dalam, yang membuat poundsterling tertekan. Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memprediksi perekonomian Inggris akan berkontraksi 6,5% di tahun ini, lebih dalam dari kontraksi ekonomi AS sebesar 5,9%.

Dalam laporan terbaru yang dirilis pekan lalu dengan judul The Great Lockdown, IMF juga memperkirakan ekonomi global akan mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif (-3%) pada tahun ini. Anjlok 6,3 poin persentase dibandingkan proyeksi yang dibuat pada Januari.

TIM RISET CNBC INDOESIA 


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading