Pasar Saham Rapuh, Ini Bocoran Sektor-sektor Pilihan MI

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
14 September 2020 15:07
Kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) setelah indeks terkoreksi 5% pada Kamis pekan lalu (10/9/2020). Posisi terendah indeks pada Kamis lalu berada di 4.886,98 poin.

Pada perdagangan Jumat, indeks kemudian mampu bangkit atau rebound dan ditutup naik 2,56% di posisi 5.016. Tapi sepanjang sepekan (7-11 September) IHSG minus 4,26%.

Pelemahan yang cukup tajam itu terjadi setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengumumkan 'rem darurat' kembali ditarik. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di ibu kota kembali diketatkan, tidak ada lagi PSBB Transisi. Mulai 14 September, warga Jakarta kembali disarankan untuk #dirumahaja.


Hal ini menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar kegiatan perekonomian kembali terhenti karena menurunnya aktivitas fisik dan berdampak pada penurunan kegiatan ekonomi.

Namun demikian, pemerintah provinsi DKI Jakarta nyatanya masih memberikan ruang kepada kegiatan ekonomi untuk bisa tetap berjalan dengan sejumlah ketentuan dan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Direktur Utama PT Samuel Aset Manajemen (SAM) Agus Basuki Yanuar mengatakan adanya ruang untuk keberlangsungan ekonomi bisa berjalan ini memberikan perbaikan sentimen bagi pelaku pasar.

Namun secara umum, berekspektasi mulai tahun depan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik, setelah tahun ini diperkirakan akan mengalami pelemahan atau paling baik akan berada pada posisi flat.

"Secara umum, meskipun tahun ini GDP [PDB] kita berpotensi negatif atau flat, investor sudah melihat bahwa tahun 2021 ada perbaikan di GDP dan EPS growth [pertumbuhan earnings per share], sehingga IHSG sampai dengan akhir tahun ini masih ada potensi menguat ke 5.400 - 5.600," kata Agus kepada CNBC Indonesia, Senin (14/9/2020).

Untuk itu, strategi investasi manajer investasi (MI) dengan ekspektasi perbaikan ekonomi tahun depan lebih memilih saham-saham yang berpotensi mendapatkan keuntungan dengan kondisi tersebut (proxy to recovery).

Selain itu, emiten dengan neraca keuangan yang kuat juga menjadi pilihan untuk penempatan aset saat ini.

"Sektor pilihannya adalah perbankan, telekomunikasi, healthcare, retail, konsumer, logistik," kata dia.

Dalam kesempatan sebelumnya, Chief Economist dan Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Katarina Setiawan juga menjelaskan bahwa saat ini rata-rata return atau imbal hasil reksa dana masih mengikuti tren pasar, sehingga strategi meracik investasi yang prudent harus menjadi prioritas.

"Sektornya harus defensif sehingga ketika suatu saat dilakukan penjualan dapat dijual tanpa menderita kerugian, jadi sekarang prinsip yang dikemukakan adalah prinsip kehati-hatian [prudent], jangan terlalu mengejar return yang tinggi tanpa memperhatikan risiko yang ada, jadi kehati-hatian itu nomer satu," ujar Katarina, dalam dialog bersama Closing Bell, CNBC Indonesia.

Dia mengatakan, di tengah kondisi ketidakpastian dan gejolak ekonomi saat ini, investor cenderung menyukai produk dengan volatilitas yang relatif rendah, misalnya produk reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading