Internasional

Batal! Raksasa Fesyen Mewah LVMH Mundur Akuisisi Tiffani

Market - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
10 September 2020 12:07
FILE PHOTO: The logo of U.S. jeweller Tiffany & Co. is seen at a store at the Bahnhofstrasse shopping street in Zurich, Switzerland October 26, 2016.   REUTERS/Arnd Wiegmann/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa produk fesyen mewah asal Prancis LVMH, membatalkan akuisisi pada perusahaan perhiasan terbesar di Amerika Serikat, Tiffany & Co senilai US$ 16,2 miliar (Rp 241 triliun). Pengambilalihan ini tadinya akan menjadi akuisisi terbesar bagi LVMH. 


Melansir CNBC International, LVMH mengatakan pada Rabu (9/9/2020) bahwa perjanjian merger yang ditandatangani November lalu memberikan batas waktu penutupan paling lambat 24 November 2020. 
Tiffany pun meminta untuk memperpanjang tanggal tersebut hingga 31 Desember.


Namun tiba-tiba menteri luar negeri Prancis mengarahkan perusahaan untuk sementara menunda kesepakatan sampai 6 Januari 2021. Pasalnya ada ancaman tarif dari AS terhadap barang-barang Prancis.

CEO of LVMH Bernard Arnault presents the group's 2019 results during a press conference, in Paris, Tuesday, Jan. 28, 2020. (AP Photo/Thibault Camus)Foto: Bernard Arnault (AP/Thibault Camus)
CEO of LVMH Bernard Arnault presents the group's 2019 results during a press conference, in Paris, Tuesday, Jan. 28, 2020. (AP Photo/Thibault Camus)



Perusahaan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka tidak akan dapat menyelesaikan akuisisi Tiffany sebagaimana adanya. Dikatakan, perlu waktu tambahan untuk mengetahui dampak dari potensi tarif AS pada barang-barang Prancis, dan karena itu tidak dapat menutup kesepakatan sebelum akhir tahun.

Saham Tiffany jatuh 10% pada awal perdagangan Rabu kemarin. Saham Tiffany, yang memiliki nilai pasar US$ 14,8 miliar, telah turun hampir 9% tahun ini.



The Wall Street Journal melaporkan bahwa rantai perhiasan AS telah mengajukan gugatan di Delaware untuk menegakkan perjanjian tersebut, dengan mengatakan permintaan dari pemerintah Prancis tidak memiliki dasar hukum.

Pandemi virus corona telah menghantam sektor ritel mewah dengan keras, membuat penjualan toko yang sama di Tiffany turun 44% dan membuat kesepakatan LVMH menjadi diragukan. Investor khawatir apakah perusahaan Prancis itu membayar lebih, dan CEO LVMH Bernard Arnault ingin menurunkan harga pembelian rantai perhiasan AS.

Di tengah kekacauan, LVMH dan Tiffany telah setuju untuk menunda tenggat waktu awal dari 24 Agustus hingga 24 November, karena pembahasan ini tidak menemukan titik temu.

Para analis mengatakan mereka yakin transaksi itu masih akan dilakukan, tetapi dengan harga yang lebih rendah.

Dengan pariwisata internasional yang tampaknya terhenti, bisnis Tiffany dan pengecer mewah lainnya telah terpukul, karena banyak yang mengandalkan pembeli besar dari China yang bertualang ke toko utama mereka di AS untuk berbelanja tas dan berlian secara royal.

Dalam membeli Tiffany, LVMH telah berupaya untuk mengembangkan bisnis perhiasannya, yang telah menjadi salah satu kategori kemewahan terbaik dan paling cepat berkembang hingga pandemi melanda.

Pada saat laporan pendapatan Tiffany pada awal Juni, perusahaan masih menunggu untuk menyelesaikan rintangan regulasi utama untuk kesepakatan tersebut. Sementara, beberapa kesepakatan terkait ritel lainnya juga telah dibatalkan akibat pandemi.

Sebelumnya, pemilik mal terbesar di AS, Simon Property Group, telah mengakhiri kesepakatannya untuk membeli pemilik mal kelas atas Taubman, mendorong Taubman untuk mengajukan gugatan balik terhadap tuduhan Simon. Perusahaan ekuitas swasta Sycamore juga mundur dari kesepakatannya untuk mengambil alih Victoria's Secret dari L Brands.





[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading