Karyawan Tak Digaji 7 Bulan, Begini Beratnya Keuangan PT INTI

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
09 September 2020 15:57
Erick Tohir

Jakarta, CNBC Indonesia - Serikat Pekerja PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero)/PT INTI atau Sejati mendesak Kementerian BUMN melakukan restrukturisasi sebagai upaya penyelamatan dan penyehatan perseroan yang didirikan sejak 30 Desember 1974 ini.

Pasalnya, PT INTI menghadapi kesulitan keuangan sejak Juli 2019 dan berdampak pada ketidakmampuan perusahaan membayarkan gaji selama 7 bulan.

Sejati menyebutkan, kondisi keuangan INTI di tahun ini sangat berat. Tercatat, keseluruhan utang INTI saat ini sebesar Rp 1,32 triliun. Dari jumlah itu, utang non-produktif tercatat sebesar Rp 1,27 triliun dan sisanya Rp 44,68 miliar.


"Hal ini jelas menyebabkan cashflow [arus kas] INTI semakin berat, karena bunga bank yang semakin lama semakin besar juga denda pajak yang semakin membebani," kata Sejati, dalam keterangan pers diterima CNBC Indonesia, Rabu (9/9/2020).

PT INTI (Kementerian BUMN)Foto: PT INTI (Kementerian BUMN)
PT INTI (Kementerian BUMN)

Dengan kondisi tersebut, Sejati mendorong pemerintah, melalui Kementerian BUMN melalui program penyehatan dan suntikan modal dari Kementerian Keuangan.

Solusi itu merupakan solusi terbaik yang menurut Serikat Pekerja dianggap yang terbaik yang bisa dilakukan untuk PT INTI. Sebab, kesulitan arus kas saat ini bukan hanya terkait gaji melainkan juga berdampak terhadap proses bisnis, karena tidak adanya modal kerja setiap perusahaan mendapatkan proyek.

"Harapan kami solusi yang diberikan oleh Pemerintah merupakan solusi jangka panjang yang bisa memulihkan INTI semakin cepat. Pihak serikat sudah intens komunikasi baik ke kementerian BUMN juga DPR komisi 6 yang membawahi BUMN untuk bisa memberikan solusi dari pemerintah, tetapi belum ada upaya konkret sampai saat ini," katanya.

Sebagai informasi, PT INTI adalah salah satu BUMN yang fokus pada industri telekomunikasi.

Agustus lalu, INTI mengeksekusi aksi strategis. Kali ini, PT INTI menjalin kerja sama dengan PT PP Infrastruktur (anak usaha PT PP Tbk). terkait dengan investasi infrastruktur yang ditandai dengan dilakukannya penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MOU).

"Kerja sama strategis ini untuk memperkuat posisi kedua belah pihak, khususnya terkait investasi infrastruktur proyek telekomunikasi nasional," ungkap Direktur Utama PT INTI Otong Iip, dalam keterangan resmi.

Sebelumnya PT INTI juga menjalin kerja sama strategis dengan PT Metra-Net (Telkom Group) terkait sinergi penyediaan layanan dan produk over the top (OTT) yang ditandai dengan dilakukannya penandatanganan Perjanjian Kerja Sama tentang Penyediaan Perangkat Android TV dan Mesin Electronic Data Capture (EDC).

Mengacu laporan 2018, total pendapatan mencapai Rp 847,76 miliar, turun 35% dari tahun 2017 yakni Rp 1,31 triliun.

Pendapatan terbesar diperoleh dari penjualan barang sebesar Rp 388,96 miliar, ambles dari sebelumnya Rp 972,58 miliar, sisanya dari penjualan jasa.

Sementara laba bersih juga turun 73% menjadi hanya Rp 1,70 miliar dari sebelumnya Rp 6,37 miliar.

Jumlah karyawan pada 31 Desember 2018 yakni 494 orang dari tahun sebelumnya 518 orang. Ekuitas tercatat Rp 221,57 miliar, dengan total kewajiban Rp 1,61 triliun. Total liablitas itu turun dari tahun sebelumnya Rp 1,81 triliun.

Liabilitas paling besar berasal dari utang bank Rp 733,54 miliar, utang pihak ketiga Rp 252,45 miliar, utang pihak berelasi Rp 262,98 miliar dan utang pajak Rp 40,17 miliar.

Aset tercatat Rp 1,83 triliun di Desember 2018 dari Rp 2,03 triliun di Desember 2017.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading