Kisah Lo Kheng Hong: Pernah Cuan Ratusan Kali & Nyangkut Lama

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
27 August 2020 06:35
Hary Tanoe & Lo Kheng Hong/Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia - Nama investor kawakan Lo Kheng Hong belakangan ramai. Hal itu terjadi setelah fotonya bersama dengan pemilik MNC Group, Hary Tanoesoedibjo sempat viral dan menggegerkan jagat bursa Tanah Air.

Ternyata tak hanya berfoto, Lo Kheng Hong juga membeli saham salah satu perusahaan andalan Grup MNC yakni PT Global Mediacom Tbk (BMTR), induk usaha PT Media Nusantara Citra Tbk (NMNC) yang membawahi beberapa media besar grup tersebut seperti RCTI, Inews, MNC TV, hingga media-media Grup MNC lainnya.

Selasa malam (25/8/20) melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), akhirnya terungkap berapa harga pembelian pria yang akrab disapa LKH ini di saham Global Mediacom tersebut.


Lo Kheng Hong/IstimewaFoto: Lo Kheng Hong/Istimewa
Lo Kheng Hong/Istimewa

Lo Kheng Hong dikenal sebagai salah satu investor bertipe value investing (berbasis nilai) di BEI dan sukses. Bahkan dia dijuluki Warren Buffet-nya Indonesia karena sudah meraup untung dengan memilih saham-saham dengan fundamental baik dan valuasi yang murah.

Value investor biasanya suka mencari saham-saham yang salah harga, alias kondisi ketika nilai intrinsik saham lebih tinggi daripada nilai pasarnya.

Tercatat LKH melakukan pembelian di saham BMTR sebesar Rp 153,4 miliar dengan rata-rata pembelian BMTR di harga Rp 200,013/unit saham yang disebutkan dibeli dengan tujuan untuk investasi.

Keuntungan LKH yang tentunya masih floating profit pada transaksi ini sendiri apabila menggunakan harga penutupan BMTR Selasa kemarin di harga Rp 310/unit, maka nilai cuan-nya sangat fantastis mencapai Rp 84,3 miliar.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bukan hanya kali ini LKH berhasil mendulang cuan jumbo di pasar modal.

Selain BMTR LKH memiliki kepemilikan besar di atas 5% di dua saham lain yakni PT Pertrosea Tbk (TBK) dan PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) yang keduanya merupakan anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY).

Untuk saham PTRO, laporan keuangan Maret 2020 PTRO mencatat dia memiliki 150.666.900 saham atau 14,94%, mayoritas masih milik INDY 69,8%.

Apabila menggunakan penutupan perdagangan Rabu kemarin (26/8/20) sebagai acuan di harga Rp 2.000/unit maka porsi nilai saham LKH dengan kepemilikan 150,67 juta saham PTRO mencapai Rp 301,33 miliar. Jangan lupa, harga saham PTRO sempat terendah setahun terakhir di level Rp 1.437-an/saham.

Artinya jika LKH masih pegang setahun terakhir dengan porsi sama yakni 150,67 juta saham maka nilai investasi dia di setahun lalu Rp 217 miliar, berarti cuan Rp 84 miliar. Desember 2018, laporan keuanganPTRO mencatat LKH punya 135.503.000 saham PTRO.

Selanjutnya untuk MBSS sepertinya LKH belum berhasil mendulang cuan di saham ini. Pertama kali dibeli LKH di tahun 2016 di kisaran harga Rp 250/unit, selanjutnya ketika naik pada 2017 dan 2018 silam LKH kembali melakukan pembelian MBSS di kisaran harga Rp 580/unit.

Pada tahun ini sendiri ketika harga saham-saham bertumbangan diserang pandemi virus corona LKH kembali melakukan pembelian average down di saham MBSS.

Apabila menggunakan harga penutupan pasar kemarin, di harga Rp 412/unit maka sepertinya LKH belum bisa cuan di saham ini, kalaupun ada untung mungkin tidak banyak.

Akan tetapi hal yang perlu menjadi catatan tentunya adalah saham-saham di atas hanyalah saham yang kepemilikan Lo Kheng Hong di atas 5% sehingga wajib dilaporkan kepada Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Hal ini menyebabkan saham-saham Lo Kheng Hong yang kepemilikannya di bawah 5% tidak terpantau, seperti rumor yang beredar di kalangan para pelaku pasar bahwa Lo memegang saham INDY dengan nominal cukup besar meskipun tidak mencapai 5%.

Di saham INDY sendiri LKH pernah untung puluhan miliar pula.

Pada tahun 2016 silam LKH dilaporkan pernah mengkoleksi saham INDY di harga Rp 110/ unit kemudian menjualnya kembali di harga Rp 600/unit atau capital gain sebanyak 545%.

Selanjutnya pada 2017 LKH kembali membeli saham INDY di harga Rp 855/unit dan menjualnya kembali  pada awal tahun 2018 dengan kisaran keuntungan mencapai Rp 250 miliar dalam waktu kurang dari setahun.

Meskipun akrab dengan saham di sektor pertambangan, karena sektor ini adalah sektor siklus sehingga ketika harga-harga komoditas terkoreksi maka akan ada banyak emiten terkoreksi juga dan menjadi  'salah harga', ternyata cuan ratusan persen LKH pertama kali datang bukan dari sektor pertambangan.

Bahkan sejumlah pemberitaan media pernah menulis bahwa PT United Tractors Tbk (UNTR) adalah tempat LKH mendapatkan cuan gede pertama kalinya. Ketika itu tahun 1998 di mana sedang terjadi krisis moneter global, pasar modal yang kala itu masih bernama Bursa Efek Jakarta sedang anjlok-anjloknya.

Menurut LKH rugi UNTR yang membengkak kala itu hanya dikarenakan kerugian nilai tukar mata uang karena seperti diketahui pada krisis moneter tahun 1998 mata uang rupiah melemah secara gila-gilaan.

LKH beranggapan bahwa ketika kondisi perekonomian sudah membaik maka UNTR yang memiliki tata kelola perusahaan (GCG) yang sehat akan kembali membukukan keuntungan, maka LKH membeli saham UNTR seharga Rp 250/unit.

Benar saja selang 6 tahun LKH menjual saham UNTR di harga Rp 15.000/unit atau profit sebesar 6.000%, transaksi tersebut menyebabkan LKH untung hingga Rp 90 miliar.

Kehebatan LKH memang dikenal karena keberanian dan mentalnyamembeli saham ketika semua orang ketakutan dan menjual sahamnya. Ketika kasus flu burung sedang marak-maraknya, LKH malah berani membeli saham pakan ternak ayam PT Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI) yang kini sudah merger dengan PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA).

Kala itu penjualan ayam anjlok akibat masyarakat takut mengkonsumsi ayam agar tak tertular flu burung sehingga harga ayam dan saham ayam seperti MBAI anjlok parah.

Waktu itu meskipun valuasi Price to Earning Ratio (PER, rasio harga terhadap laba) MBAI berada di bawah angka 1 kali tetapi saja investor tidak berani membeli saham ini. Catatan biasanya saham dianggap sudah murah apabila memiliki PER di bawah 10, apalagi di bawah 1.

Akan tetap flu burung tak mampu menyurutkan niat LKH untuk membeli saham ini, pada tahun 2005 LKH mengkoleksi saham ini di harga Rp 250/unit, 6 tahun kemudian setelah kasus flu burung sudah mereda LKH menjual saham MBAI di harga Rp 31.500, yakni capital gain sebesar 12.600% dan mengantongi cuan sebanyak RP 193 miliar.

Sebenarnya perjalanan LKH di saham tidak selalu mulus, dirinya pernah 'nyangkut' di saham sejuta umat PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Kala itu pada 2012 di harga Rp 1.000/unit, akan tetapi ternyata harga BUMI terus turun hingga menyentuh titik terendahnya di level Rp 50/unit alias gocap karena harga batu bara yang terus anjlok dan isu utang BUMI yang menggunung.

Tidak putus asa, LKH terus membeli saham BUMI dan melakukan average down, meskipun saham bumi tidur di gocap selama lebih dari setahun, LKH berani membeli saham BUMI sebab menurutnya cadangan batu bara perusahaan ini sangatlah besar sehingga tidak wajar apabila dihargai gocap.

Akhirnya ketika harga BUMI kembali naik sampai ke level Rp 500/unit, LKH mampu keluar dari saham BUMI dengan membawa keuntungan.

Begitulah kisah investasi sedih dan senang LKH di pasar modal Indonesia, tentunya hal yang bisa dipelajari adalah tingkat kesabaran LKH dan kekuatan mental untuk tidak cut loss dan tetap percaya terhadap analisisnya sendiri.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading