Newsletter

IHSG & Rupiah 'Musuhan' Sejak Pekan Lalu, Hari Ini Akur Dong!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
19 August 2020 06:10
Ilutrasi Bursa. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah kembali bergerak berlawanan arah pada perdagangan Selasa kemarin. Seolah sedang "musuhan" keduanya menunjukkan pergerakan berlawanan arah tersebut sejak pekan lalu, dimana IHSG mencetak penguatan 5 hari beruntun, sebaliknya rupiah melemah dalam periode yang sama.

Rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) menjadi salah satu penggerak pasar keuangan dalam negeri kemarin. Sementara pada hari ini, Rabu (19/8/2020), pengumuman kebijakan moneter dari Bank Indonesia (BI) akan menjadi perhatian investor. Sentimen penggerak pasar hari ini akan dibahas pada halaman 3 dan 4.


IHSG tercatat menguat 0,9% ke level 5.295,17 yang merupakan level tertinggi lima bulan, tepatnya sejak 9 Maret lalu.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 57 miliar di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 10,2 triliun.

Sebaliknya rupiah melemah 0,75% ke Rp 14.830/US$. Mata Uang Garuda terpuruk ke level terlemah dalam 3 bulan terakhir, tepatnya sejak 18 Mei lalu.
Sementara dari pasar obligasi, Surat Berharga Negara (SBN) mengalami pengutan. Yield SBN tenor 10 tahun turun 0,8 basis poin (bps) menjadi 6,758%.
Sebagai informasi, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Ketika yield turun, berarti harga sedang naik. Sebaliknya, ketika yield naik, berarti harga sedang turun.

Neraca Pembayaran atau Balance of Payment (BOP) Indonesia pada kuartal II-2020 mencatat surplus setelah defisit di kuartal sebelumnya. Penurunan defisit transaksi berjalan (CAD) dan surplus transaksi modal dan finansial (TMF) menjadi pemicunya.

Bank Indonesia (BI) mencatat neraca pembayaran Indonesia pada periode April-Juni 2020 surplus US$ 9,2 miliar. Surplus ini merupakan yang tertinggi sejak kuartal kedua tahun 2011 atau sembilan tahun silam.

Defisit transaksi berjalan sebesar US$ 2,9 miliar atau setara 1,2% dari produk domestik bruto (PDB), membaik dari kuartal sebelumnya 1,4% dari PDB. Defisit di kuartal II-2020 menjadi yang paling sejak kuartal I-2017. 

Membaiknya defisit transaksi berjalan menjadi kabar bagus bagi rupiah. Transaksi berjalan merupakan satu dari dua komponen Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), dan menjadi faktor yang begitu krusial dalam mendikte laju rupiah lantaran arus devisa yang mengalir dari pos ini cenderung lebih stabil.

Transaksi berjalan sudah mengalami defisit sejak kuartal IV-2011, sehingga menjadi "hantu" bagi perekonomian Indonesia. Kala defisit membengkak, BI akan menaikkan suku bunga guna menarik hot money, sehingga diharapkan dapat mengimbangi CAD, yang pada akhirnya dapat menopang penguatan rupiah.

Namun, kala suku bunga dinaikkan, suku bunga perbankan tentunya ikut naik, sehingga beban yang ditanggung dunia usaha hingga rumah tangga akan menjadi lebih besar. Akibatnya, investasi hingga konsumsi rumah tangga akan melemah, dan roda perekonomian menjadi melambat. Oleh karena itu, CAD menjadi hantu bagi perekonomian Indonesia.

Komponen NPI lainnya, transaksi modal dan finansial berisikan aliran modal dari investasi portfolio atau yang biasa disebut sebagai hot money, dan pergerakannya sangat fluktuatif.

Surplus TMF pada April-Juni tercatat sebesar US$ 10,5 miliar (4,3% dari PDB), berbalik arah dari defisit US$ 3,0 miliar (1,1% dari PDB) pada kuartal I-2020.

Tetapi arus modal dapat datang dan pergi dalam waktu singkat, sehingga berdampak pada stabilitas rupiah.

Lihat saja bagaimana rupiah ambrol pada bulan Maret, saat itu rupiah menyentuh level Rp 16.620/US$, terlemah sejak krisis moneter 1998. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, sepanjang bulan Maret terjadi capital outflow sebesar Rp 121,26 triliun di pasar obligasi, total kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) menjadi Rp 926,91 triliun per 31 Maret.

Sehingga posisi transaksi berjalan menjadi krusial bagi ketangguhan rupiah. Saat rupiah stabil, investor tentunya lebih nyaman berinvestasi di dalam negeri.

Sayangnya, data NPI tersebut belum mampu mendongkrak kinerja rupiah Selasa kemarin.

Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin menyampaikan ekspor Indonesia mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif -9,9% year on-year (YoY) atau tercatat sebesar US$ 13,73 miliar sementara Impor mencapai USD 10,47 miliar atau turun 32,55% YoY sehingga Neraca Dagang RI bulan Juli 2020 surplus US$ 3,26 miliar.

Wall Street Fluktuatif Tapi S&P Pecah Rekor
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading